Fajar menyingsing, membawa secercah harapan di tengah keheningan rumah sakit. Garendra akhirnya membuka mata. Pria itu, yang semalam berada di ambang gerbang kematian, kini tampak lemah namun bernyawa.Di sisi brankar, Arumi tak beranjak sedikit pun. Wajahnya yang biasanya ayu kini tampak kuyu, pucat pasi dengan lingkaran hitam yang membingkai kelopak matanya. Kelelahan luar biasa terlihat dari bahunya yang merosot, namun matanya tetap awas, memantau setiap embusan napas sang suami.Garendra menggerakkan jarinya dengan lemah, menyentuh punggung tangan istrinya. "Maafkan aku," ucapnya parau, suaranya terdengar seperti gesekan kertas kasar. Sebuah senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. "Karena aku, kau jadi mengabaikan dirimu sendiri. Tidurlah, Arumi."Arumi menggeleng cepat, air mata haru menggenang. "Jangan bicara soal maaf, Mas. Ini kewajibanku. Tidak ada tempat lain yang lebih ingin aku tuju selain di sini, di sampingmu." Ia menangkup tangan Garendra, merasakan hangat yang begi
Mehr lesen