“Arumi, aku benar-benar minta maaf. Aku masih ingin hidup. Tolong, jangan lakukan apa pun kepadaku.”Marsya tersungkur di ujung kaki Arumi. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat serta tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan semakin menguasai dirinya ketika melihat Arumi berdiri di hadapannya dengan sebuah peralatan medis di tangan, tatapan wanita itu begitu tenang hingga terasa jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.Arumi menggeser kakinya perlahan, seolah jijik melihat Marsya bersimpuh di hadapannya. Namun, alih-alih menjauh, ia justru berjongkok hingga wajah keduanya berada sejajar. Sebuah senyum tipis terbit di sudut bibir Arumi, sialnya senyum itu sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Memangnya kau kira aku akan melakukan apa terhadapmu, hmm?” tanyanya lirih.Tatapan Arumi menelusuri wajah Marsya yang dipenuhi air mata, kemudian turun pada peralatan medis yang masih berada dalam genggamannya. Senyum di bibirnya semakin mengembang, tajam dan penuh arti, seakan-
Leer más