Lidahnya bekerja dengan presisi yang mematikan, menyapu, menyesap, lalu memberi irama getar yang membuat lutut Arumi goyah seketika. Kedua tangan Arumi memegang erat dinding keramik yang basah, berusaha keras menahan bobot tubuhnya yang melemah akibat guncangan nikmat di area vitalnya. Setiap kali gigitan halus Garendra mendarat di titik sensitif itu, sensasi seperti sengatan listrik menjalar hebat hingga ke ujung jari-jarinya. "Ren... ahh, tak tahan lagi!" jerit Arumi tertahan, jemarinya meremas rambut basah Garendra, tidak tahu apakah harus mendorong atau malah menarik kepala suaminya makin merapat. Garendra mendongak tipis, matanya yang kelam menatap Arumi dari bawah dengan seringai puas. Tanpa memberi jeda, ia menyusupkan dua jarinya ke dalam liang Arumi yang sudah sangat basah, mengocoknya cepat beriringan dengan isapan lidahnya yang semakin menuntut. "Katakan siapa pemilikmu, Arumi?" gumam Garendra di sela-sela kegiatannya, membuat udara di sekitar mereka seolah kian memanas
اقرأ المزيد