Evelyn akhirnya bangkit dari tepi ranjang. Ia merapikan ujung pakaiannya, lalu tersenyum kepada Bi Yeyem meskipun masih ada sisa haru yang tertinggal di matanya. “Kalau begitu, aku pulang dulu, Bi. Besok kalau Bibi sudah menemukan kabar soal pekerjaan itu, kabari aku, ya.” Evelyn berkata sambil menyerahkan secarik kertas berisi nomor telepon irinya. “Kenapa terburu-buru? Tinggallah lebih lama.” Evelyn terkekeh pelan. “Kalau aku terlalu lama di sini, nanti Bibi malah lupa beristirahat. Lagi pula, aku masih harus menyelesaikan beberapa tugas kuliah.” Bi Yeyem menghela napas, lalu mengangguk. Wanita tua itu mengantar Evelyn keluar dari kamar, sementara di lorong depan, Angga yang sejak tadi berdiri di sana sudah lebih dulu meninggalkan tempatnya. Ia tidak ingin Evelyn mengetahui bahwa dirinya sempat mendengar percakapan tersebut. Langkahnya justru dipercepat menuju halaman depan mansion, seolah-olah ia memang baru saja hendak keluar dari sana. Beberapa menit kemudian, Evelyn dan
Leer más