"Pelan-pelan, Sayang," bisik Garendra saat tubuh Arumi terus menghentak di atas perut berototnya.Namun, wanita itu seolah enggan mendengarkan perintah tersebut. Ia terus meliukkan tubuhnya dengan tempo yang kian memburu, membiarkan rambut panjangnya terurai berantakan menyapu dada Garendra. Kondisi sang suami pun tak kalah kacau; otot-otot rahang Garendra mengencang keras, menahan sensasi nikmat yang sudah berada di ambang batas."Oh, fuck ... ini nikmat sekali," geram Garendra seraya meremas lembut gundukan kenyal di dada Arumi, menikmati tiap gesekan panas yang tercipta. "Milikmu selalu sukses menjepit milikku rapat-rapat, Sayang."Arumi tersenyum tipis—sebuah kerlingan nakal yang penuh kemenangan. Tanpa menghentikan pergerakannya, ia membungkuk sedikit, membiarkan napas hangatnya berembus tepat di atas bibir Garendra yang terengah."Lalu kenapa minta pelan-pelan?" bisik Arumi manja, suara seraknya menembus kesadaran Garendra.Jemarinya merayap naik ke dada Garendra, mencengkeram b
더 보기