Suara denting gelas kristal yang beradu keras dengan meja kaca memecahkan kesunyian suite hotel tersebut. Garendra menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, membiarkan rasa panas cairan alkohol membasahi tenggorokannya yang terasa terbakar.Sudah tiga hari ia mengurung diri di negara asing ini. Jauh dari riuk-pikuk Jakarta, dan yang paling menyiksa—jauh dari Arumi. Namun, alih-alih merindukan sang istri, kini tiap kali bayangan wajah Arumi yang polos dan lembut melintas, dada Garendra justru dihantam rasa mual dan hampa yang luar biasa.Ia memandang benci pada dokumen tebal bersampul hitam yang tergeletak di atas meja. Jemarinya yang gemetar kembali membuka halaman demi halaman, menatap deretan bukti otentik, rekam jejak transaksi rahasia, serta bukti pembobolan yang ia dapatkan malam itu.Semua bukti—tanpa celah sedikit pun—menunjuk pada satu nama: Arumi.Wanita yang selama ini ia agungkan, wanita yang ia lindungi dengan seluruh jiwanya, ternyata adalah dalang utama di balik renca
더 보기