Minggu siang itu Jakarta terasa panas dan lengang. Jalan-jalan utama dipenuhi kendaraan, tapi tidak terlalu padat. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya di aspal yang sedikit basah dari hujan semalam, memberi kesan kota yang seolah bergerak lambat. Di dalam mobil hitamnya, Yusallia memegang setir dengan tangan sedikit berkeringat. Ia menyesuaikan posisi kaca spion, lalu menarik napas panjang. "Santai aja, Yusa," gumamnya pelan, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri.Hari itu, ia memutuskan untuk kembali ke apartemen Rionegro sendiri. Bukan karena ia ingin membuat jarak, tapi karena ada perasaan aneh di dada yang membuatnya ingin mengurus semuanya sendiri, meski hanya sebatas perjalanan pulang.Yusallia menyalakan radio mobil, tapi hanya terdengar suara samar, hampir seperti latar yang tidak terlalu penting. Matanya terus menatap jalan, tapi pikirannya melayang ke apartemen. Ia membayangkan Rionegro menunggu, duduk di sofa, menatap ke arah pintu saat langkah kak
Baca selengkapnya