Compartilhar

Chapter 78

Autor: Reartha
last update Data de publicação: 2026-07-05 10:32:57

Seminggu sudah Rionegro menunggu.

Ruangan rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan steril kini terasa lebih berat dari biasanya. Lampu di langit-langit memantul ke permukaan lantai yang bersih, menghasilkan cahaya putih yang menusuk mata dan menyisakan bayangan samar di setiap sudut. Di tengah ruangan, Yusallia terbaring, tubuhnya terikat pada selang, monitor, dan berbagai alat yang membuat semua terlihat rumit sekaligus rapuh. Nafasnya stabil, tetapi belum cukup untuk membuat pri
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 97

    Perjalanan pulang ke apartemen terasa tenang. Jakarta bergerak seperti biasa di luar jendela. Suara kendaraan, lampu lalu lintas, orang-orang yang berjalan di trotoar, dan gedung-gedung yang berdiri tinggi membuat dunia terasa kembali normal. Namun bagi Yusallia, semua itu tidak benar-benar sama. Ia melihat jalanan dari balik kaca mobil dengan perasaan aneh. Beberapa minggu lalu, ia melewati jalan yang sama dalam keadaan berbeda. Penuh ketakutan, rasa sakit, dan sesuatu yang hampir merenggut segalanya darinya. Sekarang ia pulang dengan tubuh yang masih lemah, tetapi dengan tangan Rionegro menggenggam tangannya sepanjang perjalanan. Tidak terlalu erat. Tidak juga terlalu longgar. Seolah Rionegro ingin memastikan bahwa ia ada di sana, tetapi tidak ingin membuatnya merasa terkurung. Yusallia menoleh padanya. Rionegro sedang menatap jalan di depan, tetapi ibu jarinya b

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 96

    Hari kepulangan Yusallia dari rumah sakit tidak dirayakan dengan sesuatu yang besar. Tidak ada pesta. Tidak ada ucapan selamat yang berlebihan. Tidak ada bunga yang memenuhi ruangan atau kejutan yang membuatnya harus tersenyum terlalu lama. Hanya ada Rionegro yang berdiri di samping ranjang rumah sakit dengan wajah serius, satu tas pakaian di tangan kirinya, dan map berisi catatan dokter di tangan kanannya. Sejak pagi, ia sudah memeriksa semuanya berkali-kali. Obat Yusallia. Jadwal kontrol. Catatan makanan. Larangan aktivitas berat. Nomor dokter kandungan. Nomor dokter yang menangani pemulihan Yusallia. Bahkan daftar tanda-tanda yang harus segera diwaspadai. Yusallia memperhatikannya dari ranjang dengan wajah yang masih pucat, tetapi jauh lebih segar dibandingkan minggu sebelumnya. Rambutnya

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 95

    Di dalam kamar, Damian memperhatikan mereka dari celah pintu yang tidak tertutup rapat.Ia tidak mendengar semuanya, tetapi cukup melihat cara Bryan dan Rionegro berdiri tanpa saling menyerang. Cukup melihat bahwa Bryan tidak lagi menatap Rionegro seperti musuh. Cukup melihat bahwa Rionegro tidak lagi terlihat seperti orang asing di tengah keluarga mereka.Yusallia yang menyadari Damian berdiri dekat pintu menoleh.“Lo nguping?”Damian menoleh cepat. “Nggak.”“Bohong.”“Gue cuma memastikan mereka nggak adu jotos di lorong.”Yusallia menatapnya datar. “Di rumah sakit?”“Justru karena di rumah sakit, gue harus pastikan. Kalau berantem di sini kan malu.”Yusallia tersenyum kecil. “Mereka nggak akan berantem.”“Lo yakin?”“Yakin.”Damian berjalan kembali ke dekat ranjang dan duduk di kursi sampingnya.Untuk beberapa saat, ia hanya menatap kakaknya.Yusallia meras

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 94

    Bryan mendekati ranjang Yusallia setelah beberapa waktu. Ia menunggu sampai orang tua mereka berbicara dengan ayah Rionegro dan Alexander di sisi lain ruangan. Damian sedang membantu mama Yusallia membereskan kotak makanan, sementara Rionegro berbicara pelan dengan dokter yang baru masuk sebentar untuk mengecek kondisi Yusallia.Bryan berdiri di samping ranjang, menatap Yusallia dengan senyum kecil.“Lo kelihatan lebih hidup hari ini,” katanya.Yusallia menoleh. “Itu pujian atau sindiran?”“Pujian. Tapi bisa jadi sindiran kalau lo susah makan lagi.”Yusallia mendengus pelan. “Lo sama Damian sekarang kompak banget.”“Dalam urusan kesehatan lo, gue rela satu kubu sama siapa pun.”Yusallia tersenyum kecil.Bryan memandangnya beberapa detik. Senyumnya perlahan melembut.“Gue sempat takut banget,” ucapnya pelan.Yusallia diam.Bryan menunduk sedikit, memasukkan kedua tangannya ke saku celan

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 93

    Seumur hidup, ayah Rionegro tahu Rionegro tumbuh sebagai anak yang terlalu terbiasa menahan diri. Anak yang lebih banyak diam daripada meminta. Anak yang menyimpan kecewa, luka, dan jarak dengan keluarganya sendiri. Anak yang menganggap tanggung jawab sebagai sesuatu yang harus dipikul sendirian, bukan dibagi.Namun sekarang, di depan matanya, Rionegro duduk di samping istrinya, menyuapi perempuan yang hampir ia kehilangan, dengan ekspresi tenang yang justru terasa penuh rasa takut dan kasih sayang.Ayah Rionegro menarik napas pelan.“Yusallia,” panggilnya.Yusallia menoleh. “Iya, Ayah?”Panggilan itu membuat ruangan hening sebentar.Ayah Rionegro terdiam.Rionegro pun menoleh, seolah ikut menangkap perubahan kecil itu.Yusallia tidak menyadari bahwa panggilan itu terdengar begitu alami keluar dari mulutnya. Sejak menikah dengan Rionegro, ia memang mencoba menghormati keluarga suaminya. Namun hari ini, kata itu

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 92

    Hari itu, ruang perawatan Yusallia terasa berbeda.Bukan karena alat-alat medis sudah tidak ada.Bukan juga karena Yusallia sudah benar-benar pulih dan bisa pulang.Selang infus masih terpasang di tangannya. Monitor di samping ranjang masih menyala dengan bunyi teratur. Wajahnya masih pucat, tubuhnya masih mudah lelah, dan dokter masih mengingatkan bahwa ia belum boleh terlalu banyak bergerak atau menerima terlalu banyak tekanan.Namun suasana di dalam ruangan itu tidak lagi terasa sesak seperti hari-hari sebelumnya.Tidak ada kepanikan yang menggantung berat di udara.Tidak ada wajah-wajah yang berusaha kuat sambil menyembunyikan ketakutan.Tidak ada lagi berita Arvantara yang menyala di televisi dan membuat semua orang terdiam dengan rahang mengeras.Hari itu, ruang perawatan Yusallia terasa lebih hangat.Di atas meja kecil dekat jendela, ada beberapa kotak makanan yang dibawa keluarga Callisto. Ada b

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 4

    Di sisi lain kota, pagi terasa berjalan dengan ritme yang berbeda. Gerbang besar Universitas Indonesia sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Sebagian berjalan tergesa ke kelas, sebagian lagi masih sempat bercanda dengan teman-temannya di bawah rindangnya pepohonan kampus. Udara pagi yang ma

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 5

    Hari itu, waktu berjalan dengan cara yang berbeda untuk Yusallia. Bukan pelan seperti pagi tadi ketika ia baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah sakit. Tapi justru terlalu cepat... sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar menyadari kapan jam berganti. Pasien pertama masuk dengan raut wajah le

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 3

    Pagi datang perlahan di Jakarta, meninggalkan sisa hawa dingin dari hujan semalam. Langit masih diselimuti awan tipis yang menggantung rendah, membuat cahaya matahari pagi tampak samar dan pucat. Di beberapa sudut jalan, genangan air masih tertinggal, memantulkan lampu-lampu kota yang belum benar-be

  • Demi Pernikahan yang Bahagia   Chapter 1

    Lampu-lampu jalan menyala remang dengan kilau yang terlihat memantul oleh air yang jatuh tanpa henti, membuat jalan kota yang biasanya terlihat sedikit ramai menjadi lebih sunyi dari biasanya.Di tengah hujan yang semakin deras, sebuah mobil berwarna silver terlihat berhenti tiba-tiba di pinggir ja

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status