Hari Minggu itu datang dengan cara yang terlalu tenang untuk hati Yusallia yang sudah terlalu penuh.Pagi turun perlahan ke apartemen mereka lewat cahaya lembut yang menyelinap dari sela tirai ruang tengah, jatuh di lantai, di tepian sofa, dan di wajah seorang pria yang tertidur di sana dengan kepala sedikit miring ke satu sisi. Televisi mati. Laptop di meja masih terbuka setengah. Satu gelas air tinggal separuh. Dan di ruang yang begitu sunyi itu, Yusallia berdiri diam di ambang lorong sambil memandang Rionegro lebih lama dari yang seharusnya.Semalam pria itu tertidur di sofa.Bukan karena ada masalah besar. Bukan pula karena mereka bertengkar. Beberapa hari terakhir justru tidak ada pertengkaran sama sekali. Hanya ada sunyi yang panjang, hati-hati, dan dingin. Rionegro tetap menjalankan semuanya seperti biasa-makanan, jadwal, obat, pengingat kecil, dan segala bentuk perhatian yang bisa ia ukur. Sementara Yusallia, pelan-pelan, belajar hidup di dalam per
Read more