Dua minggu berlalu terlalu cepat bagi Yusallia. Sejak keputusan pernikahan itu ditetapkan, hidupnya seperti bergerak tanpa memberi ruang untuk benar-benar berhenti. Ada fitting gaun, telepon dari ibunya, pesan-pesan dari Damian, daftar tamu yang terus dipersempit, dan pembicaraan singkat dengan Rionegro yang selalu terdengar tenang. Di tengah semua itu, Yusallia tetap bekerja di rumah sakit, tetap duduk di ruang praktiknya, tetap mendengarkan cerita hidup orang lain, seolah hidupnya sendiri tidak sedang bergerak menuju sesuatu yang besar. Lalu hari itu datang. Hari pernikahannya. Yusallia terbangun sebelum ada yang membangunkannya. Kamar masih sunyi, tirai tertutup setengah, dan cahaya pagi jatuh lembut di lantai. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring diam, mencoba memahami bahwa hari yang selama ini hanya dibicarakan akhirnya benar-benar tiba. Ia menunggu rasa bahagia yang besar, atau mungkin rasa panik y
Read more