เข้าสู่ระบบDokter yang duduk di hadapan mereka membetulkan posisi kacamatanya. Ia memandangi pasangan itu, namun tetap memilih untuk bergeming.“Ziva, maaf. Sekali lagi maaf. Dari awal kamu tahu Arabella anakku. Tapi aku sama sekali nggak menyangka kalau kamu akan sekecewa ini.” Ariyan mengambil tangan Zivanya untuk kemudian mengecup punggung tangan halus itu. “Aku tahu kata maaf nggak akan pernah bisa menghapus semua sakit hati kamu. Berjuta kali pun aku mencoba memperbaikinya, sama sekali nggak akan bisa menghilangkan sejarah. Tapi aku mohon jangan tinggalin aku. Jangan batalin rencana pernikahan kita. Aku janji, aku nggak akan penah bawa Arabella ke rumah buat ketemu sama kamu kalau itu bikin kamu makin sakit.” Ariyan menundukkan kepalanya dalam-dalam, menempelkan dahi di punggung tangan Zivanya yang ia genggam. Setetes air mata hangat jatuh dari pelupuk mata Ariyan, membasahi kulit Zivanya. Ariyan benar-benar merasa menjadi manusia paling jahat di muka bumi. Di tengah ratapan dan penyesalan
Malam sudah semakin tua. Hari sudah berganti sejak empat puluh menit yang lalu. Tetapi di kamar yang luas itu Ariyan masih terjaga. Ia berdiri di dekat jendela, membuang pandangannya ke luar sana. Pada malam yang temaram. Pada titik-titik air yang jatuh satu-satu ke bumi.Cukup lama ia termenung memikirkan hasil tes besok. Ariyan tidak akan mempermasalahkan jika Arabella benar darah dagingnya. Hanya saja ia memikirkan perasaan Zivanya. Luka Zivanya pasti semakin dalam akibat ulahnya.Dinding dadanya terus bergemuruh. Sepanjang hidupnya, Ariyan tidak pernah merasa segelisah ini, bahkan saat dulu menghadapi transaksi bisnis bernilai miliaran rupiah sekalipun. Ia merebahkan diri di tempat tidur tetapi tidak bisa langsung tertidur. Berkali-kali ia mengubah posisi, tetapi tidak juga membawanya pada lelap.Ariyan mengambil handphone. Dengan ragu ia membuka kontak Zivanya. Sudah selarut ini. Zivanya pasti sudah tidur.Ariyan akan mengurungkan niatnya menghubungi Zivanya ketika tiba-tiba a
Selama pengambilan sampel, Zivanya dengan setia mendampingi Ariyan. Ia duduk di sebelah laki-laki itu tanpa sedetik pun berniat meninggalkannya. "Pak Ariyan," kata dokter. "Sebelum kita mengambil sampel usap pipi, saya akan membacakan dan memverifikasi dokumen chain of custody untuk sampel anak atas nama Arabella yang sudah diserahkan lebih dulu. Semua proses ini akan dicatat dengan teliti.” Ariyan mengangguk. "Silakan, Dok." Zivanya menyimak saat dokter mengajukan pertanyaan demi pertanyaan pada Ariyan. Ia menautkan jemarinya di atas pangkuan. Entah mengapa Ariyan yang menjalani pemeriksaan tetapi dirinya yang merasa gugup. Tiba-tiba Ariyan mengambil tangannya dan menggenggamnya, kemudian membawa genggaman tangan mereka ke atas paha lelaki itu. Zivanya menoleh. Ariyan tetap menatap dokter dan bicara dengannya. Usai wawancara, dokter membawa swab steril bertangkai panjang. "Maaf ya, Pak. Tolong buka mulutnya sebentar. Saya akan mengusap bagian dalam pipi kanan dan kiri."
Langit di luar tampak gelap. Kilatan petir sesekali menyambar di kejauhan, menerangi cakrawala dengan cahaya putih kebiruan yang menyilaukan, disusul suara guntur yang menggelegar keras, membuat kaca-kaca jendela rumah bergetar hebat. Angin bertiup kencang, menggoyahkan dahan-dahan pohon di halaman dan menerbangkan dedaunan kering, membawa aroma tanah basah yang kuat sebagai pertanda bahwa hujan deras akan segera tumpah membasahi bumi.Di dalam rumah, Zivanya sudah siap. Ia mengenakan kemeja berwarna biru navy yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan celana hitam dan high heels berwarna senada. Rambutnya diikat ekor kuda dengan rapi, dan pulasan makeup tipis menghiasi wajahnya. Meskipun cuaca di luar sangat tidak bersahabat, Zivanya bersiap untuk pergi. Sesuai janji dengan Ariyan semalam, pagi ini mereka akan bertemu.“Mau ke mana kamu?” tanya Seruni yang baru saja masuk ke rumah setelah mengantar Kaisar ke sekolah. Seruni menatap Zivanya dengan tatapan menyelidik.Zivanya memandang Ser
[Aku bawa Mama sama Papa ketemu Arabella.] Setelah pesan tersebut Ariyan juga mengirimkan foto tempat penyimpanan Arabella selama ini. Zivanya menatap foto tersebut lama seraya membayangkan kehidupan anak itu selama ini. [Sorry, aku baru cerita sekarang. Padahal janjinya pas di Indonesia langsung cerita ke kamu. Tapi keburu kacau.] Zivanya membalas pesan tersebut. [Nggak apa-apa. Yang penting kamu udah jujur. Gimana keadaannya? Dan gimana tanggapan Mama Papa?] [Arabella sehat. Tapi pas ketemu Mama Papa langsung kumat. Mereka syok berat. Ya aku ceritalah. Terus Mama minta tes DNA karena nggak yakin dia anakku.] [Nggak yakinnya gimana?] [Karena nggak mirip aku atau perempuan itu.] Zivanya menatap layar ponselnya cukup lama setelah membaca balasan terakhir dari Ariyan. Jemarinya tertahan di atas keyboard, ragu sejenak sebelum akhirnya mengetikkan balasan. [Terus kamu mau tes DNA?] Tak butuh waktu lama sampai tanda titik tiga muncul di sudut layar, menandakan Ariyan sedang meng
Selagi kedua orang tuanya panik melihat kejadian tersebut, Ariyan yang sudah biasa menangani Arabella memiringkan tubuh anak itu agar saluran napasnya tetap terbuka dan busa serta air liur yang keluar tidak menyumbat jalan napasnya atau masuk ke paru-paru. Dengan gerakan sigap namun sangat hati-hati, Ariyan menyangga kepala putrinya menggunakan bantal busa empuk yang diambilkan oleh Rahma, membiarkan tubuh kecil itu menuntaskan kejangnya tanpa ditahan.Setelah kejang berlangsung lebih kurang selama dua menit, Arabella akhirnya terlelap.“Dia masih sering kambuh, Bu?” Ariyan tanyakan sembari membelai kepala Arabella dan merapikan rambutnya.“Masih, Pak Ariyan. Tapi frekuensinya sudah jauh berkurang dibanding awal-awal Bella masuk ke sini dulu.”Rahma menghela napas halus sebelum melanjutkan. "Bulan ini baru dua kali kambuh, Pak. Biasanya pemicunya adalah kalau ada lonjakan emosi yang mendadak seperti kaget, rasa cemas berlebih, atau saat kondisi fisiknya sedang drop. Sistem sarafnya me
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







