تسجيل الدخولMobil yang dikendarai Kaivan berhenti dengan mulus di drop off area di depan gedung kantor Zivanya. Pria itu melirik jam tangannya, lalu melepas sabuk pengaman tepat saat sosok Zivanya melangkah keluar dari pintu lobi. Zivanya merapikan blazer yang melekat di tubuhnya sembari berjalan mendekati mobil lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Hari ini mereka memang sudah berjanji untuk pergi ke bridal butik guna melakukan final fitting baju pengantin sebagai pengecekan terakhir sebelum hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Belum sempat Zivanya menyentuh gagang pintu mobil, sebuah Rubicon merah berhenti tepat di belakang mobil Kaivan. Pintu pengemudi mobil itu terbuka. Seorang laki-laki keluar dari sana lalu dengan cepat menghampirinya. “Ziva!” Zivanya sontak menoleh. Ia terkejut melihat Ariyan datang mendekatinya. ‘Ya Tuhan, mau apa lagi dia?’ batinnya gemas. “Sore, Ziva. Mau pulang?” sapa Ariyan padanya. Zivanya menjawab dengan anggukan. “Boleh aku antar
Sepuluh hari lagi. Ariyan tidak henti memandangi sembari mengusap-usap nama Zivanya di undangan tersebut. Sepuluh hari lagi Zivanya akan menikah. Seolah belum cukup menyakitkan, ia mengulang kalimat itu berulang kali dalam hatinya. Apa yang bisa ia lakukan dalam sepuluh hari ini? Apakah ada keajaiban, mukjizat atau apa pun namanya agar pernikahan itu batal? Dulu, saat Zivanya masih menjadi istrinya, sepuluh hari hanyalah rentang waktu biasa yang ia lewati begitu saja dalam kebebalannya. Namun kini, sepuluh hari akan memisahkan mereka selamanya. Sepuluh hari merupakan sebuah tenggat waktu di mana Zivanya akan resmi menjadi milik lelaki lain, membawa serta seluruh cinta dan kasih sayang yang dulu pernah Ariyan sia-siakan. Ia baru menyadari betapa berharganya wanita itu. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruk amnesianya, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa wanita yang ingin ia peluk erat-erat telah menggandeng tangan pria lain menuju pelaminan. “Ari…” Ariyan cepat-cepa
Kembali ke rumahnya yang megah, Ariyan berusaha keras menata ulang kepingan pikirannya. Ia mulai mencoba beraktivitas normal, membuka laptop, memeriksa dokumen, dan menyusun kembali rutinitas hariannya. Di antara tumpukan dokumen, sebuah map tebal dengan tulisan ‘Kaisar Fitness - Grand Opening & Initial Setup’ menarik perhatiannya. Dahi Ariyan berkerut dalam. Di dalamnya tertera dokumen perizinan, sertifikat kepemilikan, serta berkas evaluasi grand opening bisnis pusat kebugaran yang ternyata baru resmi beroperasi beberapa waktu yang lalu. "Kaisar Fitness?" gumam Ariyan bingung. Ia ingat betul nama anak tunggalnya. Namun, memori tentang kapan ide bisnis ini muncul, bagaimana proses pembangunannya, hingga momen soft launching benar-benar gelap gulita. Otaknya seperti menghapus total jejak proyek baru ini. Beruntung kedua orang tuanya dengan sabar memberi pengertian. Mereka mengajak Ariyan ke Kaisar Fitness, mengenalkan pada para pekerjanya, termasuk Jody. Ariyan sama sekali tidak
Pertanyaan polos yang meluncur dari mulut Kaisar seketika membuat Kaivan terkejut. Pria itu sempat menghentikan ayunan kakinya di pedal gas lalu memandang anak lucu di sampingnya dengan perasaan heran.Kaivan benar-benar tidak menyangka pikiran seperti itu bisa terlintas di pikiran Kaisar.Setelah berhasil menguasai keterkejutannya, Kaivan mengulas senyum tipis. "Kok Kai nanyanya gitu?" “Soalnya kata Omi, kalau Ibu nikah lagi, ayah barunya suka galak, Ayah. Suka marah-marah, terus nyubit sama mukul Kai kalau Ibu lagi nggak ada.”Sekali lagi Kaivan dibuat terkejut. Seruni yang mengatakannya? Bagaimana bisa calon mertuanya itu meracuni pikiran anak kecil seperti Kaisar dengan hal-hal yang tidak akan mungkin Kaivan lakukan? Apa di mata wanita itu Kaivan sebegitu jahatnya?Alih-alih sakit hati di depan anak kecil, Kaivan memilih untuk tertawa. Ia kemudian mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap puncak kepala Kaisar.“Omi cuma bercanda. Nggak beneran begitu,” ucap Kaivan dengan suara y
Kai, ayo pulang,” kata Zivanya sembari menggamit tangan Kaisar.“Ibu sudah selesai bicara sama Papa?”“Sudah.”“Kok sebentar?” celetuk anak itu dengan polosnya.“Papa butuh banyak istirahat,” jawab Zivanya dengan intonasi lembut, memberikan alasan yang paling aman bagi anak seusia putranya. “Kasihan Papa kalau diajak ngobrol kelamaan. Nanti Papa sakit kepala lagi.”Kaisar manggut-manggut, menelan alasan itu bulat-bulat tanpa rasa curiga. “Ooh... ya udah deh. Tapi nanti Kai boleh ketemu Papa lagi, kan, Bu?”Zivanya tidak langsung menjawab. Ia melirik Zelena dan Jeandra.“Boleh dong. Kai boleh ketemu Papa kapan pun Kai mau,” jawab Zelena sambil mengusap kepala cucunya.“Kalau Kai mau nginap nemenin Papa, boleh nggak, Oma?” “Boleh banget,” jawab Zelena cepat. “Papa pasti senang.”“Tapi nggak sekarang ya, Nak. Kai harus sekolah. Nginapnya kapan-kapan aja. Ayo sekarang pamit dulu sama Oma sama Opa,” sela Zivanya sebelum Kaisar meminta yang macam-macam.Patuh, Kaisar langsung menyalami dan
Tinggal berdua, tidak ada sepotong kata pun keluar dari mulut mereka. Baik Zivanya maupun Ariyan.Ariyan tidak mengerti. Perempuan yang berdiri di hadapannya ini hanya diam tanpa melakukan apa pun tapi mampu membuatnya tidak berkedip. Kenapa dia begitu indah? Dan kenapa baru sekarang Ariyan menyadarinya?“Mau bicara apa?” Zivanya yang jengah dipandangi sedemikian rupa akhirnya bertanya."Makasih udah datang ke sini. Maaf kalau aku membuang-buang waktumu. Aku mau minta maaf atas semua kesalahan dan dosa-dosaku ke kamu, Ziva. Juga sama Kaisar. Aku tahu ini nggak akan mudah buat kamu. Tapi izinkan aku untuk menebusnya. Aku benar-benar menyesal,” ucap Ariyan sungguh-sungguh dengan penyesalan yang begitu dalam.“Dengan cara apa?” respons Zivanya singkat.Ariyan menatap Zivanya lebih lekat sebelum menjawab, “Izinkan aku jadi ayah yang seutuhnya buat Kaisar. Kasih aku kesempatan buat hadir di hidup kalian lagi. Aku akan turuti apa pun yang kamu minta. Aku akan lakukan apa pun yang kamu ingi
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







