เข้าสู่ระบบDengan langkah gontai dan tubuh lunglai, Ariyan melangkah masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat sedikit pucat, matanya merah dengan sorot kosong bagai raga tanpa jiwa.Saat melihat kedatangan Ariyan, Zelena langsung berdiri.“Kamu dari mana, Ari? Kenapa mukamu pucat kayak gini?”Ariyan tidak menjawab. Ia hanya menatap ibunya beberapa detik, sebelum akhirnya lelaki dengan tinggi 186 cm itu luruh ke lantai. Ia memeluk kaki Zelena, menyandarkan kepalanya ke sana."Mama…," bisik Ariyan lirih sambil menahan tangis. Ariyan merasa nasibnya begitu malang. Sudahlah sakit, ia juga harus kehilangan perempuan yang saat ini benar-benar ia inginkan.Zelena mengusap lembut kepala Ariyan dan bertanya, "Kenapa, Ari? Kepalamu sakit lagi?”“Hatiku, Ma, sakit banget," adu Ariyan dengan perasaan sedih. "Tadi aku ikut Ziva sama Kaivan fiting baju pengantin. Ziva cantik banget, Ma. Bajunya, orangnya, semuanya. Tapi yang bikin aku sakit adalah yang jadi pengantin prianya bukan aku, tapi orang lain.”Zelena
Rubicon merah itu menderu halus ketika Ariyan akhirnya menginjak pedal gas, meluncur membuntuti mobil hitam Kaivan dari jarak aman. Di dalam kabin mobil yang hening, Ariyan meremas kemudi dengan kuat. Sementara sepasang matanya tak lepas menatap bagian belakang mobil di depannya. Di dalam sana, Zivanya duduk di samping pria lain, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Mungkin saat ini keduanya sedang bermesraan. Ariyan menyumpahi kebodohannya sendiri. Kenapa ia menuruti ajakan konyol Kaivan? Mengapa ia sengaja menyerahkan hatinya untuk digerogoti rasa sakit yang berkali-kali lipat lebih hebat? Sementara itu, di dalam mobil Kaivan, Zivanya masih tidak habis pikir pada sikap Kaivan. “Kai, aku masih nggak ngerti apa tujuan kamu mengajak Ariyan. Nanti dia malah mikir yang nggak-nggak atau malah sakit kepala lagi gara-gara memikirkan hal yang nggak perlu.” Kaivan tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap lembut jemari Zivanya. “Kalau Ariyan cuma dibiarkan m
Mobil yang dikendarai Kaivan berhenti dengan mulus di drop off area di depan gedung kantor Zivanya. Pria itu melirik jam tangannya, lalu melepas sabuk pengaman tepat saat sosok Zivanya melangkah keluar dari pintu lobi. Zivanya merapikan blazer yang melekat di tubuhnya sembari berjalan mendekati mobil lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Hari ini mereka memang sudah berjanji untuk pergi ke bridal butik guna melakukan final fitting baju pengantin sebagai pengecekan terakhir sebelum hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari. Belum sempat Zivanya menyentuh gagang pintu mobil, sebuah Rubicon merah berhenti tepat di belakang mobil Kaivan. Pintu pengemudi mobil itu terbuka. Seorang laki-laki keluar dari sana lalu dengan cepat menghampirinya. “Ziva!” Zivanya sontak menoleh. Ia terkejut melihat Ariyan datang mendekatinya. ‘Ya Tuhan, mau apa lagi dia?’ batinnya gemas. “Sore, Ziva. Mau pulang?” sapa Ariyan padanya. Zivanya menjawab dengan anggukan. “Boleh aku antar
Sepuluh hari lagi. Ariyan tidak henti memandangi sembari mengusap-usap nama Zivanya di undangan tersebut. Sepuluh hari lagi Zivanya akan menikah. Seolah belum cukup menyakitkan, ia mengulang kalimat itu berulang kali dalam hatinya. Apa yang bisa ia lakukan dalam sepuluh hari ini? Apakah ada keajaiban, mukjizat atau apa pun namanya agar pernikahan itu batal? Dulu, saat Zivanya masih menjadi istrinya, sepuluh hari hanyalah rentang waktu biasa yang ia lewati begitu saja dalam kebebalannya. Namun kini, sepuluh hari akan memisahkan mereka selamanya. Sepuluh hari merupakan sebuah tenggat waktu di mana Zivanya akan resmi menjadi milik lelaki lain, membawa serta seluruh cinta dan kasih sayang yang dulu pernah Ariyan sia-siakan. Ia baru menyadari betapa berharganya wanita itu. Ia baru saja terbangun dari mimpi buruk amnesianya, hanya untuk mendapati kenyataan bahwa wanita yang ingin ia peluk erat-erat telah menggandeng tangan pria lain menuju pelaminan. “Ari…” Ariyan cepat-cepa
Kembali ke rumahnya yang megah, Ariyan berusaha keras menata ulang kepingan pikirannya. Ia mulai mencoba beraktivitas normal, membuka laptop, memeriksa dokumen, dan menyusun kembali rutinitas hariannya. Di antara tumpukan dokumen, sebuah map tebal dengan tulisan ‘Kaisar Fitness - Grand Opening & Initial Setup’ menarik perhatiannya. Dahi Ariyan berkerut dalam. Di dalamnya tertera dokumen perizinan, sertifikat kepemilikan, serta berkas evaluasi grand opening bisnis pusat kebugaran yang ternyata baru resmi beroperasi beberapa waktu yang lalu. "Kaisar Fitness?" gumam Ariyan bingung. Ia ingat betul nama anak tunggalnya. Namun, memori tentang kapan ide bisnis ini muncul, bagaimana proses pembangunannya, hingga momen soft launching benar-benar gelap gulita. Otaknya seperti menghapus total jejak proyek baru ini. Beruntung kedua orang tuanya dengan sabar memberi pengertian. Mereka mengajak Ariyan ke Kaisar Fitness, mengenalkan pada para pekerjanya, termasuk Jody. Ariyan sama sekali tidak
Pertanyaan polos yang meluncur dari mulut Kaisar seketika membuat Kaivan terkejut. Pria itu sempat menghentikan ayunan kakinya di pedal gas lalu memandang anak lucu di sampingnya dengan perasaan heran.Kaivan benar-benar tidak menyangka pikiran seperti itu bisa terlintas di pikiran Kaisar.Setelah berhasil menguasai keterkejutannya, Kaivan mengulas senyum tipis. "Kok Kai nanyanya gitu?" “Soalnya kata Omi, kalau Ibu nikah lagi, ayah barunya suka galak, Ayah. Suka marah-marah, terus nyubit sama mukul Kai kalau Ibu lagi nggak ada.”Sekali lagi Kaivan dibuat terkejut. Seruni yang mengatakannya? Bagaimana bisa calon mertuanya itu meracuni pikiran anak kecil seperti Kaisar dengan hal-hal yang tidak akan mungkin Kaivan lakukan? Apa di mata wanita itu Kaivan sebegitu jahatnya?Alih-alih sakit hati di depan anak kecil, Kaivan memilih untuk tertawa. Ia kemudian mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap puncak kepala Kaisar.“Omi cuma bercanda. Nggak beneran begitu,” ucap Kaivan dengan suara y
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







