Share

Part 309

last update publish date: 2026-08-06 11:19:01

Rubicon merah itu menderu halus ketika Ariyan akhirnya menginjak pedal gas, meluncur membuntuti mobil hitam Kaivan dari jarak aman.

Di dalam kabin mobil yang hening, Ariyan meremas kemudi dengan kuat. Sementara sepasang matanya tak lepas menatap bagian belakang mobil di depannya. Di dalam sana, Zivanya duduk di samping pria lain, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Mungkin saat ini keduanya sedang bermesraan.

Ariyan menyumpahi kebodohannya sendiri. Kenapa ia menuruti ajakan konyol
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (13)
goodnovel comment avatar
ars
duh kak zi sdh sejauh ini jgn sakiti kaivan tolonggg
goodnovel comment avatar
Dara fadilah
menunggu update selanjutnyaa. harus bersabar .
goodnovel comment avatar
Khai Chaniago
ini bukan kuch kuch hota hae kaann...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 341

    Waktu bergulir dengan cepat. Zivanya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di Melancholia Music Academy.Sekolah musiknya itu berkembang pesat karena masih sedikit sekolah sejenis, para pengajarnya pun sudah profesional di bidang masing-masing. Selain sebagai owner, Zivanya juga terjun langsung untuk mengajari para muridnya. Zivanya sangat menikmati perannya. Mengajar membawa kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Melihat jemari murid-muridnya menemukan suara jiwa mereka di atas tuts memberi kepuasan tersendiri bagi Zivanya.Dedikasi Zivanya pada musik tidak berhenti di ruang kelas. Di sela-sela mengajar, ia terus mengasah kemampuannya. Ia ingin menjadi pianis profesional seperti cita-cita masa kecilnya yang dulu terpaksa ia kubur dalam-dalam karena maminya tidak setuju. Maminya itu lebih suka Zivanya menekuni dunia bisnis karena menurutnya menjadi pemusik tidak memiliki masa depan.Zivanya telah mendaftarkan diri di ajang International Beethoven Piano Competition yang

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 340

    Gila!” Zivanya mendesis geram melihat tingkah Ariyan yang kekanak-kanakan.Ia meremas setir kuat-kuat menyalurkan kekesalannya. Rasa marahnya yang begitu besar hampir saja membuatnya nekat menginjak pedal gas. Ariyan di luar sana tetap berdiri tegak tanpa takut sedikit pun kalau Zivanya benar-benar menabraknya, seolah ia menyerahkan nyawanya ke tangan Zivanya.Zivanya melirik kaca spion tengah. Di kursi belakang, Kaisar masih tidur dengan nyenyak. Anak itu sedikit pun tidak terganggu oleh masalah kedua orang tuanya.Dengan sentakan kasar, Zivanya membuka pintu mobil lalu menghampiri Ariyan yang teguh pada sikapnya."Kamu pikir kamu hebat dengan bertingkah konyol kayak gini?" sembur Zivanya dengan suara bergetar menahan jengkel. "Kamu pikir kalau kamu mati di depan mobilku, aku bakal kasihan? Nggak! Aku cuma bakal makin benci sama kamu!"Ariyan menatap wajah Zivanya yang diterpa cahaya lampu mobil. Entah memiliki keberanian dari mana, ia meraih jemari perempuan itu yang terkepal di sis

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 339

    Betapa terkejutnya Zivanya atas aksi yang dilakukan mantan suaminya. Muka Zivanya ‘merah’ sejadinya. Ia benar-benar malu dan tidak menyangka berani-beraninya Ariyan melakukan itu.Zivanya merasa marah dan ingin menampar Ariyan, tetapi kala ingat saat ini ia sedang disaksikan banyak orang, ia hanya bisa terdiam seribu bahasa sambil menahan emosi.Sementara Kaisar yang masih berada di dalam gendongan Ariyan tampak begitu gembira dan berseru dengan riang, "Hore! Ibu dicium papa!”Seruan Kaisar yang terdengar keras memicu gelak tawa gemas serta tepuk tangan yang semakin riuh dari para tamu di bawah panggung. Seruni semakin gencar menyeka air mata harunya di barisan depan, sementara Syabila dan Mita saling sikut sembari menahan jeritan gemas melihat pemandangan romantis di atas panggung.Zivanya terpaksa menerbitkan senyum canggung merespons anaknya. Ia mengelus lembut pipi Kaisar. Namun, ketika pandangannya bergeser pada wajah Ariyan, senyum di bibir Zivanya langsung menyusut. Ia memandan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 338

    Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini acara grand opening Melancholia Music Academy akhirnya terselenggara.Plang hitam dengan ukiran bertuliskan Melancholia Music Academy menyambut para tamu undangan di area serambi gedung. Papan-papan bunga ucapan selamat berjajar hingga hampir menyentuh bahu jalan.Di jajaran kursi terdepan, Abi duduk berdampingan dengan Seruni. Wajah Seruni tampak serba salah. Wanita yang dulunya mencemooh Zivanya itu kini harus menelan ludahnya sendiri menyaksikan kemegahan akademi yang berhasil dibangun sang putri. Abi mengelus punggung tangan istrinya seraya tersenyum tipis.Tidak jauh dari sana, Jeandra dan Zelena duduk dengan tenang. Di sisi lain barisan, Ariyan duduk di dekat Kaisar. Ada juga Syabila, Mita dan beberapa orang teman Zivanya dan banyak lagi yang lainnya."Pa, mana Ibu?" bisik Kaisar antusias pada Ariyan."Sebentar lagi. Sabar ya.”Dari tempat duduknya, Seruni melempar pandang pada Ariyan. Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk se

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 337

    Ariyan benar-benar meminta maaf pada Zivanya dan Kaisar hampir setiap hari. Entah itu melalui telepon, bertemu langsung, ataupun bunga dan hadiah-hadiah yang dikirimnya. Kendati Zivanya mengatakan bahwa ia dan Kaisar sudah memaafkannya, tetapi keesokan harinya lelaki itu tetap melakukan hal yang sama.Lelaki itu juga cukup sering berkunjung. Zivanya sudah menghindar, tetapi setiap kali resepsionis menelepon, Kaisar dengan cepat mengangkat handphone Zivanya dan mengatakan, “Kata Ibu, kasih Papa akses buat naik, Tante resepsionis.”Resepsionis yang bertugas hanya bisa tertawa. Mereka semua sudah mengenal Kaisar yang lucu dan menggemaskan. Mereka juga sudah sangat menghafal wajah Ariyan saking seringnya lelaki itu berkunjung ke sana.Hari ini lagi-lagi Ariyan mampir ke penthouse Zivanya setelah menjemput Kaisar di sekolah. Zivanya sedang sibuk di depan laptop. Progress sekolah musiknya sudah berjalan 90%. Kalau semuanya lancar, maka tidak lama lagi sekolah tersebut akan mulai beroperasi.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 336

    Tiga hari sudah Kaisar menginap di rumah Ariyan. Zivanya sengaja membiarkan agar anak itu puas dan ia juga memiliki waktu untuk dirinya sendiri.“Ibu, Kai heran deh. Kenapa Papa minta maaf tiap hari sama Kai?” beritahu Kaisar dengan suara berbisik melalui telepon sepuluh menit yang lalu. “Kata Papa, Papa banyak salah sama Kai dan Ibu. Tapi Kai, kan, udah maafin Papa. Masa Papa minta maaf terus.”Sulit bagi Zivanya menjelaskan pada putranya bahwa ingatan papa anak itu terhenti di Amsterdam.Zivanya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang ke arah udara kosong di ruang tengahnya. Ia mencari kata yang paling pas agar anak sekecil Kaisar tidak kebingungan atau ketakutan mendengar kondisi ayahnya."Kai," panggil Zivanya pelan dan lembut. "Kai tahu, kan, kalau Papa lagi agak sakit?"“Tahu, Bu.”​"Nah, sakitnya Papa itu bikin pikiran Papa seperti papan tulis magnetik punya Kai," jelas Zivanya perlahan. "Setiap malam pas Papa tidur, papan tulis di kepala Papa terhapus bersih secara

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status