“Ibu kenapa belum pulang? Kai nungguin dari tadi.”Di balik ponsel suara Kaisar menyapa pendengaran Zivanya.“Iya, Sayang, maafin Ibu ya,” jawab Zivanya serendah mungkin, membiarkan nada bicaranya terdengar sehangat yang ia mampu. “Urusan Ibu di luar sebentar lagi selesai. Kai udah makan malam, Nak?”“Udah. Kai udah ngantuk. Tapi Kai juga mau tunggu Ibu dulu. Kai mau cerita.”“Kalau gitu, Kai tidur aja dulu ya. Ceritanya besok kalau Kai udah bangun.”“Memangnya Ibu di mana? Ibu lagi sama Papa ya?”Zivanya memandang sekelilingnya, menimbang apa ia harus jujur atau tidak. “Hm, iya. Ibu lagi sama Papa di rumah Oma.”“Kok nggak ajak-ajak Kai? Kai, kan, juga mau ke rumah Oma. Terus Kai mau ke tempat gym Papa. Kai udah lama nggak ke sana.”“Kapan-kapan ya, Sayang? Sekarang Kai cuci tangan, kaki sama muka. Terus naik ke tempat tidur. Jangan lupa baca doa dulu. Besok kalau Kai udah bangun, Ibu langsung cerita. Oke?”“Oke, Ibu.”Zivanya menjauhkan handphone dari telinga lalu beranjak dari tepi
Read more