MasukZivanya sedang mengikuti latihan untuk acara besok. Sesi latihan ini sebenarnya steril dan tertutup ketat untuk umum, namun Ariyan bisa duduk tenang di deretan kursi penonton yang temaram berkat companion pass khusus peserta yang tergantung rapi di dadanya.Zivanya duduk di depan piano. Bersama puluhan musisi orkestra pendamping dan aba-aba tegas dari konduktor, dentingan jemari Zivanya menyatu sempurna membawakan babak konserto Beethoven. Setiap ketukan nada yang meluncur dari jemarinya terdengar teratur, kuat, dan mengalun indah.Dari tempat duduknya, tatapan Ariyan tertuju sepenuhnya pada Zivanya. Ia bangga melihat mantan istrinya itu. Tetapi ia tidak memungkiri bahwa saat ini ia juga sedang gelisah. Sesekali matanya mengedar ke sudut-sudut gedung, memastikan tidak ada sosok asing yang berani menyusup dan mengusik ketenangan mantan istrinya. Ariyan tidak ingin terjadi kekacauan di hari besar Zivanya nanti.Setelah sesi latihan bersama dan briefing teknis berakhir, Zivanya melangkah
Pagi-pagi sekali Zivanya sudah bangun dan stand by di depan piano. Lalu sore nanti ia ia sudah dijadwalkan menghadiri latihan akustik sekaligus sesi briefing latihan bersama orkestra di gedung Wiener Musikverein.Tidak jauh dari sana, Ariyan duduk di sofa. Tidak sedetik pun Ariyan melepaskan tatapannya dari Zivanya, seolah jika ia berkedip sedikit saja maka ia akan rugi karena melewatkan pemandangan indah di hadapannya.Di tengah permainan Zivanya, keasyikan Ariyan terganggu karena bunyi ketukan di pintu.Ariyan berdiri mendahului, tidak ingin fokus latihan Zivanya terganggu. Ia membuka pintu dan mendapati seorang petugas concierge berseragam rapi berdiri membungkuk hormat, menyodorkan sebuah buket bunga mawar merah berukuran besar."Good morning, Herr von Westergaard. A special delivery for you, Sir," ujar petugas hotel dengan sopan sembari menyodorkan buket tersebut.“For me? Who sent this? I didn't order any flowers,” heran Ariyan yang merasa tidak memesan bunga."The sender reques
Tubuh terbalut selimut itu menggeliat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat terurai oleh lelapnya tidur. Cahaya remang menyelimuti ruangan, hanya dibantu oleh bias pendar lampu-lampu kota Vienna yang menerobos masuk dari balik jendela kaca raksasa suite yang belum tertutup tirai sepenuhnya.Mengulurkan tangan, Zivanya menjangkau ponsel di atas nakas. Setelah layarnya menyala, deretan angka di sana sukses membuat matanya melebar seketika.19.30.Setengah delapan malam?Zivanya mendudukkan dirinya dengan cepat, membuat rambutnya yang terurai jatuh berantakan. Ia termenung beberapa detik. Sudah berapa jam dirinya tertidur? Dan seingatnya, tadi ia cuma rebahan sebentar di sofa, tapi kenapa sekarang berada di kasur?Satu-satunya penjelasan yang masuk akal hanya mengarah pada satu nama. Ariyan.Pria itu telah membopong tubuhnya dari sofa dan mendaratkannya di ranjang ini tanpa membuat Zivanya terbangun sedikit pun. Bayangan bagaimana
Rasanya Zivanya ingin mengguncang bahu tegap itu keras-keras dan mengusir Ariyan pindah ke kamar sebelah. Pria itu yang memindahkan hotel mereka dan menyewa suite dua kamar ini, lalu kenapa tempat tidur Zivanya yang dijajah seenaknya?Zivanya baru saja hendak menarik napas untuk menyuarakan kekesalannya ketika matanya menangkap detail di kaki Ariyan. Sepasang sepatu di sana masih melekat dengan sempurna. Ariyan tampaknya langsung tertidur begitu menyentuh kasur karena terlalu lelah hingga tidak sempat melepas alas kakinya.Bayangan saat Ariyan berkali-kali menguap dengan mata merah serta ketulusannya yang menolak tidur demi menjaganya sepanjang penerbangan belasan jam, berputar jelas di depan mata Zivanya. Pria ini memang arogan dan terbiasa berbuat semaunya, tetapi rasa lelah yang meremukkan tubuhnya saat ini murni karena ia memilih pasang badan untuk Zivanya.Dengan dengkusan napas pasrah, Zivanya membuka sepatu Ariyan satu per satu dengan sangat hati-hati agar Ariyan tidak terbangu
Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Vienna International Airport. Di luar sana, kota Vienna terlihat diselimuti kabut tipis musim gugur.Zivanya terbangun dengan tubuh yang jauh lebih segar. Di sebelahnya, Ariyan sedang mematikan flight mode di ponselnya. Pria itu mengusap wajah, lalu menguap pelan sembari menutup mulut dengan telapak tangan. Saat Ariyan mengambilkan tas Zivanya dari kompartemen atas, Zivanya baru menyadari sesuatu, mata mantan suaminya itu tampak agak merah."Kamu nggak tidur sama sekali?” tanya Zivanya melihat Ariyan yang ngantuk berat saat mereka sedang menunggu koper.Ariyan menjawab dengan gelengan kepala.“Kenapa?”“Biar bisa jagain kamu.”“Lebay.”Ariyan hanya tersenyum. Zivanya tidak perlu tahu apa alasan terbesarnya.Setelah koper-koper besar milik Zivanya muncul di conveyor belt, Ariyan dengan sigap mengambilnya. Tanpa membiarkan Zivanya menyentuh satu koper pun, pria itu mengangkat semuanya ke atas troli, lalu mendorongnya melintasi area imigrasi.
Ariyan berjalan tepat di belakang Zivanya membawa koper kabin milik perempuan itu. Saat memasuki pesawat, Zivanya segera menemukan kursinya di dekat jendela dan langsung duduk, berniat memutus interaksi sesegera mungkin. Ia membiarkan Ariyan mengangkat koper miliknya ke kompartemen atas. Saat lelaki itu mendaratkan tubuh di sampingnya, Zivanya langsung membuang muka.Pandangan Ariyan tertuju pada bahu Zivanya yang terbuka. Saat ini Zivanya mengenakan blouse putih dengan model kerah Sabrina hingga mengekspos jelas pundaknya yang putih dan mulus. Ariyan sangat tidak nyaman melihat itu.Ariyan menghela napas pendek. Ia meraih selimut yang disediakan, lalu merentangkannya hingga menutupi dada dan kedua bahu Zivanya.Zivanya langsung menoleh."Pakai selimutnya, Ziva.”Zivanya menepis pelan tangan Ariyan dan menurunkan selimut tersebut ke pangkuannya. "Aku nggak kedinginan."“Tapi baju kamu terlalu sexy. Bagian bahunya terlalu lebar. Semua orang bisa ngeliat pundak kamu. Aku nggak mau kamu
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang







