LOGINAriyan berjalan tepat di belakang Zivanya membawa koper kabin milik perempuan itu. Saat memasuki pesawat, Zivanya segera menemukan kursinya di dekat jendela dan langsung duduk, berniat memutus interaksi sesegera mungkin. Ia membiarkan Ariyan mengangkat koper miliknya ke kompartemen atas. Saat lelaki itu mendaratkan tubuh di sampingnya, Zivanya langsung membuang muka.Pandangan Ariyan tertuju pada bahu Zivanya yang terbuka. Saat ini Zivanya mengenakan blouse putih dengan model kerah Sabrina hingga mengekspos jelas pundaknya yang putih dan mulus. Ariyan sangat tidak nyaman melihat itu.Ariyan menghela napas pendek. Ia meraih selimut yang disediakan, lalu merentangkannya hingga menutupi dada dan kedua bahu Zivanya.Zivanya langsung menoleh."Pakai selimutnya, Ziva.”Zivanya menepis pelan tangan Ariyan dan menurunkan selimut tersebut ke pangkuannya. "Aku nggak kedinginan."“Tapi baju kamu terlalu sexy. Bagian bahunya terlalu lebar. Semua orang bisa ngeliat pundak kamu. Aku nggak mau kamu
Zivanya berani bertaruh pasti ini ulah maminya. Rasa kesal Zivanya naik ke ubun-ubun mengingat sikap Seruni yang terlalu mencampuri urusan hidupnya seolah Zivanya adalah anak kecil.“Silakan kalau mau marah,” tantang Ariyan yang sudah menebak sejak awal bagaimana reaksi mantan istrinya.“Ya aku memang marah! Sampai kapan kamu mau jadi antek-antek Mami, hah?!”Tawa Ariyan lepas berderai. Suara beratnya yang renyah sampai mengundang kerlingan penasaran dari beberapa penumpang yang berada di dalam lounge tersebut. Ariyan sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh kilatan amarah yang menyala tajam di sepasang mata Zivanya."Antek-antek?" ulang Ariyan dengan sisa tawa yang masih menghiasi bibirnya. "Agak ekstrem ya istilahnya. Padahal aku cuma memanfaatkan informasi dari Mami secara bijak karena kamu nggak jujur mau ke mana.”"Nggak lucu!” Zivanya semakin ketus. Ia merasa jengkel setengah mati melihat Ariyan menganggap kemarahannya seperti hiburan. "Mami itu makin hari makin kelewatan men
Waktu bergulir dengan cepat. Zivanya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di Melancholia Music Academy. Sekolah musiknya itu berkembang pesat karena masih sedikit sekolah sejenis, para pengajarnya pun sudah profesional di bidang masing-masing. Selain sebagai owner, Zivanya juga terjun langsung untuk mengajari para muridnya. Zivanya sangat menikmati perannya. Mengajar membawa kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Melihat jemari murid-muridnya menemukan suara jiwa mereka di atas tuts memberi kepuasan tersendiri bagi Zivanya. Dedikasi Zivanya pada musik tidak berhenti di ruang kelas. Di sela-sela mengajar, ia terus mengasah kemampuannya. Ia ingin menjadi pianis profesional seperti cita-cita masa kecilnya yang dulu terpaksa ia kubur dalam-dalam karena maminya tidak setuju. Maminya itu lebih suka Zivanya menekuni dunia bisnis karena menurutnya menjadi pemusik tidak memiliki masa depan. Zivanya telah mendaftarkan diri di ajang International Beethoven Piano Competition
Gila!” Zivanya mendesis geram melihat tingkah Ariyan yang kekanak-kanakan.Ia meremas setir kuat-kuat menyalurkan kekesalannya. Rasa marahnya yang begitu besar hampir saja membuatnya nekat menginjak pedal gas. Ariyan di luar sana tetap berdiri tegak tanpa takut sedikit pun kalau Zivanya benar-benar menabraknya, seolah ia menyerahkan nyawanya ke tangan Zivanya.Zivanya melirik kaca spion tengah. Di kursi belakang, Kaisar masih tidur dengan nyenyak. Anak itu sedikit pun tidak terganggu oleh masalah kedua orang tuanya.Dengan sentakan kasar, Zivanya membuka pintu mobil lalu menghampiri Ariyan yang teguh pada sikapnya."Kamu pikir kamu hebat dengan bertingkah konyol kayak gini?" sembur Zivanya dengan suara bergetar menahan jengkel. "Kamu pikir kalau kamu mati di depan mobilku, aku bakal kasihan? Nggak! Aku cuma bakal makin benci sama kamu!"Ariyan menatap wajah Zivanya yang diterpa cahaya lampu mobil. Entah memiliki keberanian dari mana, ia meraih jemari perempuan itu yang terkepal di sis
Betapa terkejutnya Zivanya atas aksi yang dilakukan mantan suaminya. Muka Zivanya ‘merah’ sejadinya. Ia benar-benar malu dan tidak menyangka berani-beraninya Ariyan melakukan itu.Zivanya merasa marah dan ingin menampar Ariyan, tetapi kala ingat saat ini ia sedang disaksikan banyak orang, ia hanya bisa terdiam seribu bahasa sambil menahan emosi.Sementara Kaisar yang masih berada di dalam gendongan Ariyan tampak begitu gembira dan berseru dengan riang, "Hore! Ibu dicium papa!”Seruan Kaisar yang terdengar keras memicu gelak tawa gemas serta tepuk tangan yang semakin riuh dari para tamu di bawah panggung. Seruni semakin gencar menyeka air mata harunya di barisan depan, sementara Syabila dan Mita saling sikut sembari menahan jeritan gemas melihat pemandangan romantis di atas panggung.Zivanya terpaksa menerbitkan senyum canggung merespons anaknya. Ia mengelus lembut pipi Kaisar. Namun, ketika pandangannya bergeser pada wajah Ariyan, senyum di bibir Zivanya langsung menyusut. Ia memandan
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini acara grand opening Melancholia Music Academy akhirnya terselenggara.Plang hitam dengan ukiran bertuliskan Melancholia Music Academy menyambut para tamu undangan di area serambi gedung. Papan-papan bunga ucapan selamat berjajar hingga hampir menyentuh bahu jalan.Di jajaran kursi terdepan, Abi duduk berdampingan dengan Seruni. Wajah Seruni tampak serba salah. Wanita yang dulunya mencemooh Zivanya itu kini harus menelan ludahnya sendiri menyaksikan kemegahan akademi yang berhasil dibangun sang putri. Abi mengelus punggung tangan istrinya seraya tersenyum tipis.Tidak jauh dari sana, Jeandra dan Zelena duduk dengan tenang. Di sisi lain barisan, Ariyan duduk di dekat Kaisar. Ada juga Syabila, Mita dan beberapa orang teman Zivanya dan banyak lagi yang lainnya."Pa, mana Ibu?" bisik Kaisar antusias pada Ariyan."Sebentar lagi. Sabar ya.”Dari tempat duduknya, Seruni melempar pandang pada Ariyan. Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk se
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar
Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it







