Tiga hari telah berlalu. Tiga hari yang terasa bagai neraka bagi Ariyan karena ia harus menahan rasa sakit dan kerinduan luar biasa pada Zivanya.Selama tiga hari itu, Ariyan hanya berani menyapa Zivanya lewat panggilan suara. Di balik ponsel, ia memaksakan suaranya terdengar tenang dan stabil, meski setiap kali bibirnya yang pecah bergerak mengeja kata, rasa perih menyerang hingga ke saraf kepalanya."Udah agak mendingan. Kamu nggak usah cemas,” kata Ariyan hari itu saat Zivanya menanyakan keadaannya. Zivanya hanya tahu kejadian pemukulan yang pertama. Ia tidak tahu bahwa masih ada kelanjutannya. "Jangan bohong, Ari. Suara kamu beda banget. Nada bicara kamu juga sengaja ditahan-tahan.""Nggak, Say—nggak, Ibu, aku beneran nggak apa-apa.”"Kalau kamu beneran nggak apa-apa, kita video call sekarang."“Jangan sekarang ya. Aku lagi nggak ganteng.” Ariyan mencoba bercanda, tetapi tidak mempan."Aku hitung sampai tiga. Swipe ke video call atau aku ke sana sekarang.”Pasrah, Ariyan mengembu
Read more