LOGINMalam itu berjalan terasa sangat lambat. Syukurlah tadi mamanya bisa dibujuk setelah ia berjanji besok pagi-pagi sekali mereka akan berangkat. Ariyan hampir tidak bisa memejamkan mata walau hanya sekejap. Bayangan keterkejutan kedua orang tuanya besok terus menari-nari di depan mata. Barulah menjelang subuh ia bisa tidur. Itu pun hanya sebentar.Saat terjaga, pikirannya kosong seperti biasa. Tetapi nalurinya sudah terlatih. Setelah melihat catatan di handphone, Ariyan mengesah membuang napas. Hari ini akan menjadi hari yang sangat berat.*Ariyan sudah berdiri di samping mobil menunggu kedua orang tuanya. Tak lama, keduanya muncul. Keduanya masuk ke mobil tanpa memberi sapaan pada Ariyan.Mobil yang dikendarai Ariyan mulai bergerak membelah jalanan kota yang berangsur ramai. Jeandra dan Zelena duduk membisu di kursi belakang. Jeandra terus menggenggam erat jemari istrinya, sementara mata Zelena menatap kosong ke luar jendela, memerhatikan deretan gedung bertingkat yang berganti menjad
Setelah rahasia kelam dirinya diketahui oleh orang-orang, terutama kedua orang tuanya, Ariyan sudah menduga cepat atau lambat pertanyaan barusan akan ia dengar. Bagi Ariyan, melihat Zelena sudah mau berbicara dengannya adalah sebuah kemajuan luar biasa yang sangat ia syukuri.“Ada, Ma. Dia ada,” jawab Ariyan kemudian.“Di mana kalau memang ada?”“Di tempat yang aman, Ma.”Zelena mengamati wajah Ariyan lebih lekat. Ia sama sekali tidak puas oleh jawaban tersebut. “Di tempat yang aman itu yang gimana? Aman menurut kamu belum tentu aman dalam arti sebenarnya.”“Kalau soal itu nggak perlu Mama khawatirkan. Dia memang berada di tempat yang aman, Ma. Bukan hanya aman menurut aku.”“Jadi Mama nggak boleh tahu dia di mana?”“Kalau Mama udah tahu Mama mau apa?” tanya Ariyan hati-hati. Ariyan khawatir Zelena akan menyakiti Arabella. Sebesar apa pun kebencian Ariyan pada Aira saat ini, tetapi Arabella tetaplah seorang anak kecil tidak berdosa. Anak itu hanya korban dari kesalahan orang dewasa.“
Di balik handphone, Zivanya memejamkan mata. Ia terdiam cukup lama yang terasa sangat menyiksa bagi Ariyan. “Ziva?” Zivanya terbatuk. Ia melangkah ke tepi jendela dan berdiri di sana. “Ziva?” panggil Ariyan sekali lagi. Ia mulai cemas karena Zivanya belum juga menjawab. “Aku nggak tahu.” “Nggak tahu gimana?” Ariyan tidak puas oleh jawaban Zivanya. “Saat ini pikiranku masih dipenuhi kejadian itu. Beberapa kali Kai mimpi buruk, dan dia terus nanya apa kamu betul-betul sayang sama dia, apa memang aku ini bodoh seperti yang dikatakan Aira. Udah gitu, Mami juga ngomel tiap hari dan ngungkit-ngungkit kesalahan kamu,” urai Zivanya panjang lebar merincikan kejadian yang terjadi di rumah beberapa hari belakangan. “Tapi kamu nggak berubah, kan? Kamu nggak akan batalin pernikahan kita, kan?” kejar Ariyan cepat. Satu embusan napas lepas dari bibir Zivanya sebelum kembali memberi jawaban. “Aku nggak bisa kasih kamu kepastian apa-apa sekarang,” ucapnya dengan suara yang terdengar le
Satu minggu telah berlalu sejak kejadian itu. Zivanya dan Ariyan untuk sementara sengaja menjaga jarak demi meredakan ketegangan di antara orang tua mereka. Terutama Seruni yang mendadak tidak menyetujui pernikahan keduanya setelah rahasia kelam masa lalu terbongkar secara brutal.Sementara itu, saat ini Aira sudah ditetapkan sebagai tersangka dan mendekam di sel tahanan.Di ruang pemeriksaan, Aira duduk didampingi seorang pengacara yang ditunjuk oleh pihak kepolisian karena ancaman hukumannya di atas lima tahun. Wajahnya yang biasa dipoles riasan kini kusam dan dipenuhi lingkaran hitam akibat stres berhari-hari di dalam sel."Pak, tolong usahakan lagi penangguhan penahanan buat saya,” desak Aira setengah berbisik sambil memegang lengan pengacaranya. “Saya nggak betah di dalam. Saya bisa gila lama-lama di sana!”"Bu Aira, tolong realistis," jawab sang pengacara dengan nada datar. "Pihak pelapor yaitu Ibu Zivanya dan juga Bapak Ariyan menutup rapat-rapat semua pintu damai sejak awal. T
Setelah melalui sedikit kemacetan, Zelena dan Jeandra tiba di rumah sakit. Tadi di perjalanan mereka sudah menghubungi Zivanya, mengatakan akan ke sana. Jadi, setelah tahu letak kamar Kaisar, keduanya melesat ke sana.Zelena akan mengetuk pintu ketika pintu lebih dulu dibuka dari dalam, memunculkan Seruni yang mukanya langsung berubah masam.“Run, gimana keadaan Kaisar? Ziva udah cerita semuanya. Aku khawatir banget.” Zelena menanyakannya baik-baik tetapi respons Seruni sungguh di luar dugaan.“Khawatir? Baru sekarang kalian khawatir?! Setelah cucuku kepalanya hampir pecah gara-gara perempuan piaraannya si Ariyan?! Hati kalian itu terbuat dari apa, hah?!"Zelena akan membuka mulut tapi lagi-lagi sang besan mendahuluinya.“Ini semua gara-gara anak kalian. Gimana sih cara kalian mendidik dia? Apa kalian ajarkan dia jadi laki-laki pecundang, kurang ajar, nggak bermoral, dan pezina?!""Run, Ari memang salah besar, dan kami sama sekali nggak membela dia.” Jeandra mencoba membuka suara deng
Pengacara Ariyan sudah tiba lebih dulu di kantor polisi. Tadi saat di mobil Ariyan menghubunginya.“Pak Farhan, saya mau perempuan itu dihukum selama dan seberat mungkin. Dia sudah mencelakai anak saya,” kata Ariyan langsung. Ia benar-benar takut. Sesuatu yang berhubungan dengan cedera kepala selalu menimbulkan trauma baginya.“Tenang, Pak Ariyan. Saya sudah berkoordinasi dengan Kasat Reskrim," ujar Farhan tenang, menunjukkan otoritasnya "Laporan dari Bu Zivanya sangat solid. Ditambah bukti visum luka memar di kepala Kaisar dan cakar di wajah Bu Seruni. Bu Aira tidak akan lolos dari pasal penganiayaan anak dan kekerasan fisik. Saya pastikan tidak ada penangguhan penahanan untuk dia.""Bawa saya menemui dia sekarang, Pak.”Farhan mengangguk pelan. Ia memberi tanda pada dua penyidik yang bertugas. Kehadiran pengacara ternama bersama klien dari keluarga konglomerat itu membuat para petugas memberi akses khusus tanpa penolakan berarti. Mereka digiring menuju sebuah ruang interogasi khusus
Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang
Entah berapa lamanya Zivanya berdiri di depan pintu. Hingga ia tersadar ia tidak mungkin terus mematung di sana. Dengan embusan napas panjang ia terpaksa masuk yang langsung disambut oleh kegelapan. Zivanya sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya terang hanya akan memperlihatkan semua benda-benda
Hati Zivanya yang telah hancur semakin tidak ada bentuknya lagi. Ia tahu Ariyan adalah laki-laki brengsek. Tapi tidak sedikit pun terlintas di pikirannya ide gila itu akan terlontar dari bibir Ariyan.Pria ini memintanya mematikan fungsi rahimnya secara permanen hanya demi kenyamanan perselingkuhan
Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar







