مشاركة

Part 86

مؤلف: Zizara Geoveldy
last update تاريخ النشر: 2026-05-25 13:45:20

​Mobil Kaivan melaju membelah rintik hujan yang kian deras, meninggalkan area rumah sakit yang penuh kepahitan di belakang mereka. Zivanya termenung sambil memandang kosong deretan lampu jalanan yang membias buram karena air hujan.

​"Kita mampir sebentar ya," ujar Kaivan memecah keheningan.

​Zivanya tidak menyahut. Ia hanya mengerjapkan matanya sekali tanpa menoleh. Ia terlalu lelah bahkan hanya untuk sekadar mengeluarkan satu kata.

​Kaivan membelokkan setir ke arah sebuah toko kue. Tanpa menun
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (18)
goodnovel comment avatar
Duryati Duryati
bener.. Ziva kelewatan tolol yang rela bertahan karena kondisi papahnya yg lemah, padahal Ziva bisa jujur ngomong sama Zelena..
goodnovel comment avatar
Disyari Rose
ini cerita gila bgt sih, agak ngerendahin martabak wanita, jgn terlalu dibikin tolol ya thor zivanya, tegas dkt dong, jgn mau disuruh lahiran cpt. pergi aja udah, jujur kesemua keluarga bsr, pasti semua mihak ziva, dan semoga anak si Aira, bukan anaknya si Ari. bikin Ari nyesel seumur hidup.
goodnovel comment avatar
roha mimha
emosi terus bacanya...
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 299

    Bau antiseptik yang kini merasuk ke dalam hidung Ariyan tidak lagi berasal dari studio tato, melainkan dari sterilnya ruangan tempat Ariyan dirawat. Di dekat tempat tidurnya alat monitor jantung berbunyi dengan teratur.Perlahan-lahan, kelopak mata Ariyan pun terbuka. Hal pertama yang tertangkap oleh lensanya adalah wajah khawatir Zelena yang berdiri di sebelah Jeandra.“Mama,” panggil Ariyan lirih.“Iya, ini Mama,” sahut Zelena cepat sembari menggenggam tangan sang putra. Zelena merasa lega karena Ariyan ingat padanya. Tadi saat mendapat kabar dari Jodi, Zelena merasa sangat cemas. Ia takut penyakit Ariyan semakin parah dan tidak mampu mengingat apa pun.Pandangan Ariyan bergeser pada Jeandra yang tidak kalah cemas dari istrinya. “Papa…”Jeandra mengangguk. “Masih sakit kepalanya?”Ariyan menjawab dengan gelengan lemah. “Ma, Pa, aku minta maaf. Doain operasinya lancar ya, Ma, Pa.”Zelena dan Jeandra saling berpandangan. Keduanya keheranan. “Operasi apa, Nak?”“Kepala aku, Ma. Aku m

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 298

    Ariyan membuka kaus hitamnya yang basah oleh keringat. Saat ini ia sedang berada di ruang khusus trainer. Ia memandang refleksi dirinya di kaca besar di hadapannya. "Bang, tato lo itu asli keren banget," puji Jodi, salah satu trainer muda yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia menatap lekat detail ukiran di tubuh bosnya. "Cakep, Bang. Lo bikin di mana dulu? Terus makna di balik simbol burung sama rantai putus itu apa sih? Kayak dalam banget filosofinya."Di punggung Ariyan, tepatnya di sebelah kanan, terlihat sekumpulan tato. Seekor burung yang mengepakkan sayap terbang lepas melintasi tautan rantai besi yang putus. Di bagian tengahnya ada garis-garis kompas, memayungi deretan fase bulan dan ukiran matahari yang melengkung rapi.Ariyan mengangkat tangan meraba permukaan punggung kanannya. Kulitnya terasa dingin. Tetapi ia sama sekali tidak mampu mengingat kisah, tempat pembuatan, maupun arti di balik simbol-simbol tersebut.Memutar tubuh meng

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 297

    Kaisar Fitness berjarak tidak jauh dari rumah Ariyan. Kaivan tiba di sana dalam lima belas menit. Itu pun ia menyetir pelan-pelan karena terjebak kemacetan.Kaivan menatap tulisan Kaisar Fitness yang terukir di gedung dari balik kemudi. Ia merasa haru sekaligus kasihan.Setelah menata kembali emosinya, Kaivan keluar dari mobil dan mendorong pintu kaca pusat kebugaran tersebut.Embusan pendingin udara yang bercampur dentuman musik bertempo sedang dan menyambut kedatangannya. Suasana di dalam tampak hidup dan sangat profesional. Beberapa trainer berseragam khusus terlihat sedang mendampingi para member, sementara deretan peralatan fitness kelas atas tertata rapi di tempatnya.Kaivan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan hingga akhirnya matanya tertuju pada satu titik di area free weights.Di sana, Ariyan sedang berdiri di depan cermin besar. Lelaki itu tampak sedang memberikan instruksi teknik gerakan deadlift kepada salah seorang trainer muda. Kaivan tertegun di tempatnya berdiri.

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 296

    [Kai, orang percetakan nelepon aku. Katanya sampel undangan pernikahan kita udah selesai dicetak. Mereka minta kita ke sana sebentar buat approval desainnya sebelum diproduksi massal.]Kaivan mengembuskan napas setelah membaca chat dari Zivanya. Setelah berpikir beberapa detik, ia memutuskan untuk membalas.[Kamu aja ya. Aku ada sidang sebentar lagi. Terus sorenya juga masih ada meeting sama klien. Kalau menurut kamu desainnya udah oke, aku juga oke. Aku percaya sama pilihan kamu.]Beberapa detik kemudian, Kaivan kembali mengetik.[Maaf ya nggak bisa nemenin.]Setelah menekan tanda kirim, Kaivan menyandarkan punggungnya di kursi. Satu helaan napas kembali lolos dari bibirnya.Hatinya sebenarnya ingin selalu berada di samping Zivanya, terlebih setelah kejadian menguras emosi kala itu. Namun, tuntutan pekerjaannya sebagai pengacara tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Jadwal sidang hari ini sudah tertata ketat dan melibatkan nasib kliennya.Tak sampai satu menit, layar ponselnya kembal

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 295

    Perkataan lugas Ariyan membuat semua orang refleks memandang padanya dengan berbagai ekspresi.Kaivan hanya bisa membisu di tempatnya berdiri. Sebagai sahabat yang pernah sangat dekat dengan Ariyan, posisi Kaivan saat ini sungguh membuatnya serba salah. Ada gumpalan rasa bersalah, canggung, sekaligus iba melihat kondisi Ariyan. Ia hanya mampu menunduk, membiarkan jemarinya terkepal rapat di samping tubuh tanpa berani membalas tatapan menantang dari mantan suami calon istrinya itu.Kaisar yang berada dalam dekapan Ariyan mulai merasa tidak nyaman dengan aura tegang yang tercipta. Anak kecil itu meliuk-liuk gelisah, mengulurkan tangannya ke arah Zivanya. "Ibu... Kai mau turun. Kai nggak mau gendong lagi.”"Tolong turunin Kaisar,” kata Zivanya yang melangkah mendekat dan bermaksud mengambil alih sang putra.Alih-alih melepaskan, Ariyan malah semakin mengeratkan dekapannya.“Ariyan, tolong lepasin Kaisar.” Zivanya mengulangi permintaannya dengan lebih tegas.Ariyan bergeming menatap Zivan

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 294

    Suasana di kediaman Abi hari itu terasa jauh lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Kaisar tampak begitu ceria dan tertawa saat Kaivan yang membantu memasangkan tali sepatunya sesekali menggelitik pinggangnya.Seruni yang biasanya selalu melempar tatapan dingin atau kalimat sinis, hari ini tampak jauh lebih tenang. Setelah mendapat teguran keras dari suaminya, wanita itu memilih untuk tidak banyak bicara.“Udah siap, Jagoan?” tanya Kaivan lembut seraya menepuk pelan bahu Kaisar.Kaisar mengangguk antusias, melompat kecil lalu menggenggam jemari Kaivan erat-erat. “Siap, Ayah! Kai mau coba kue yang ada coklatnya banyak!”Hari ini mereka semua dijadwalkan untuk food tasting atau mencicipi menu catering pernikahan Zivanya dan Kaivan yang tinggal tidak lama lagi.“Ayo, semuanya sudah siap?” Abi muncul dari arah dalam. “Jangan sampai kita terlambat, pihak catering sudah menyiapkan tempat khusus buat kita.”“Sudah, Pi. Yuk,” sahut Zivanya seraya mengambil tasnya.Mereka melangkah berir

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 4

    Ariyan memacu kendaraannya menembus rintik hujan dengan rahang yang terkatup rapat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan kuat saking kesalnya pria itu pada istrinya.Sementara Zivanya memandang dengan sorot kosong ke luar jendela di sisi kirinya, membiarkan lampu-lampu kota yang buram menjadi latar

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 3

    Lutut Zivanya terasa lemas, seolah sendi-sendinya baru saja dilolosi secara paksa. Di dalam unit apartemen yang sejuk itu, atmosfer mendadak berubah menjadi panas.​Matanya tertuju pada Ariyan. Suaminya berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu. Jejak peluh yang belum kering di dada lelaki it

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 2

    Zivanya tidak tahu kapan tepatnya ia tertidur. Yang ia ingat hanya bagaimana ia meringkuk di tempat tidur yang dingin sambil memeluk bantal. ​Saat cahaya matahari mulai merayap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat, Zivanya mengerjapkan mata. Hal pertama yang ia rasakan adalah tempat

  • Aku yang Tidak Pernah Ada di Hatimu   Part 1

    Cahaya dari lampu taman di luar menembus tirai tipis kamar Zivanya, menyinari punggung Ariyan yang sedang bergerak liar di atasnya. Suara napas mereka beradu, berat dan memburu. Zivanya mencengkeram punggung Ariyan. Kukunya sedikit menekan kulit pria itu, mencoba menahan dirinya agar tidak melayang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status