تسجيل الدخولSelagi menunggu Kaivan, Zivanya menekuri layar ponselnya. Ia cepat-cepat membuka aplikasi transportasi online. Dengan gerakan jemari yang sedikit gemetar, ia menekan tanda cancel order dan menerima konsekuensi berupa saldonya yang langsung dipotong, yang tentu saja tidak seberapa bagi Zivanya. Setelah urusan taksi beres, Zivanya tercenung. Pikirannya melayang pada kejadian di kamar rawat Aira beberapa menit yang lalu. Rasa perih kembali melingkupi hati saat mengingat nama yang diucapkan Aira tadi. Arabella. Detik di mana nama itu meluncur dari bibir Aira, Zivanya seolah dihantam petir di siang bolong. Jiwanya terguncang hebat, meski wajahnya berhasil menampilkan ekspresi yang begitu sempurna. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa Arabella yang menjadi nama anak Aira? Selama dua bulan terakhir, di keheningan malam saat ia mengelus perutnya sendirian, Zivanya berpikir keras dan berhasil me
“Aira mau ketemu kamu. Ke dalam bentar ya?” pinta Ariyan setelah mengurai pelukan. Zivanya hampir tidak percaya mendengar perkataan Ariyan. Untuk apa Aira ingin bertemu dengannya? Ingin memanas-manasinyakah? Setelah semua yang Zivanya lakukan, apa perempuan itu masih ingin merobek-robek hatinya? Tapi entah mengapa Zivanya mengangguk setuju memenuhi permintaan Ariyan. Ariyan tak menyangka istrinya mau. Setelah menunggu sebentar, ia membawa Zivanya memasuki ruang perawatan pasca bersalin yang bernuansa hangat. Aroma minyak-minyakan bayi langsung menyapa indra penciuman mereka. Di tempat tidur, Aira tengah berbaring dengan bayi di sisinya. Muka perempuan itu terlihat agak pucat dan kelelahan, namun gurat kebahagiaan seorang ibu terpancar jelas dari sepasang matanya. Zivanya melangkah masuk di belakang Ariyan. Mereka mendekati Aira. "Selamat, Kak Aira. Perjuangan kamu luar biasa tadi. Aku ikut senang,” ucap Zivanya dengan tulus, hati yang lapang, jiwa yang besar, tanpa dibua
“Ari! Aku bilang stop! Turunin aku sekarang!” Zivanya berteriak dan meronta agar Ariyan menurunkannya. Tangannya bergerak nekat menyambar gagang pintu mobil yang terkunci, berniat memaksa keluar. "Aku nggak mau ikut kamu! Aku nggak mau ketemu perempuan itu! Buka pintunya, Ariyan!""Diam aja kenapa sih? Jangan bikin aku makin pusing!" bentak Ariyan tanpa menoleh. Sebelah tangannya dengan cepat menepis tangan Zivanya dari gagang pintu, sementara tangan kanannya mengetat mencengkeram kemudi. "Jalanan lagi padat, jangan bikin kita berdua mati kecelakaan di sini karena kelakuan nekat kamu!”"Lebih baik kamu turunin aku di pinggir jalan sekarang daripada paksa aku melihat simpanan kamu!" Zivanya tidak menyerah. Ia terus meronta sekuat tenaga, memukul dasbor mobil dan mencoba melepaskan sabuk pengamannya secara paksa dengan gerakan frustrasi. "Kamu benar-benar keterlaluan. Kamu bohongin Mama, dan sekarang kamu seret aku buat ketemu perempuan itu?!""Aku nggak mungkin nurunin kamu di pingg
“Ma, aku pergi dulu,” pamit Ariyan sembari menahan perasaan cemas. Aira sendiri di apartemen, sedang berjuang melawan sakit.“Kok buru-buru? Baru juga nyampe,” kata Zelena heran.“Iya, Ma, maaf banget. Ada urusan darurat. Aku harus ke site sekarang.” Begitu lancar Ariyan berdusta.“Kamu ini, katanya pekerjaan bisa didelegasikan sama yang lain.” Zelena geleng-geleng kepala mengingat ucapan Ariyan tadi.“Iya, Ma. Tapi yang ini nggak bisa. Ini urgent, Ma. Aku–”“Itu Ziva!” seru Zelena melihat menantu kesayangannya muncul.Ariyan ikut memandang ke arah yang sama. Tampak di sana Zivanya melangkah sedikit tertatih ke arah mereka, membawa perutnya yang membola. Sebelah tangannya menjinjing sesuatu. Mungkin makanan untuk Zelena. Perempuan itu memang pandai mengambil hati mertuanya. Setelah tiba di dekat mereka, Zivanya dan Zelena saling berpelukan lalu bertukar ciuman pipi kanan dan kiri.“Kamu dari mana, Ziva?” tanya Zelena lembut begitu pelukan mereka terurai. Ia menatap menantunya dengan
Hari demi hari terus bergulir pasca kejadian di acara tersebut. Bagi Ariyan, rahasia yang berhasil diredam hari itu bukanlah akhir dari masalah tapi awal dari masalah yang lain.Di satu sisi, ia berhasil menenangkan Aira dengan janji yang mengikat lehernya sendiri. Di sisi lain, ia sadar betul bahwa membujuk orang tuanya terutama mamanya bukanlah hal yang mudah.Sore itu Ariyan datang mengunjungikediaman orang tuanya. Ia sengaja pulang lebih awal dari kantor demi bertemu dengan wanita yang paling ia hormati di dunia ini.Ariyan melangkah masuk ke dalam rumah, mendapati Zelena sedang duduk di gazebo taman samping, menikmati teh hangat sembari membaca majalah interior. Di usia enam puluh tahun, Zelena yang berprofesi sebagai arsitek terkenal tetap terlihat cantik dan anggun."Sore, Ma," sapa Ariyan dan melangkah mendekat, lalu mencium punggung tangan Zelena. Zelena tersenyum atas kedatangan sang putra. “Tumben jam segini udah pulang? Kantor lagi senggang?""Pekerjaan bisa didelega
Sosok berkacamata itu berjalan mendekat menghampiri Zivanya yang masih mencoba menguasai diri mengendalikan keterkejutannya.“Hai, Ziva, selamat ya atas acara syukurannya. Aku ikut senang deh.”“Makasih. Siapa yang ngundang kamu ke sini, Kak?”Seulas senyum tipis terukir di bibir Aira yang dipulas lipstik berwarna burgundy."Nggak perlu ada yang mengundangku, Ziva. Rumah ini, kan, sudah seperti rumahku sendiri," jawab Aira santai dengan suara mengalun rendah yang menusuk. Ia melangkah lebih dekat hingga hampir tidak berjarak dengan Zivanya lalu melirik perutnya. "Lagian, sebagai sesama perempuan yang sedang mengandung, aku tentu harus menunjukkan dukunganku, kan?" lanjut Aira setengah berbisik, sembari sebelah tangannya mengusap permukaan perutnya sendiri di balik blus longgar yang ia kenakan."Kak Aira, aku nggak tahu apa tujuanmu datang ke sini. Tapi tolong pergi dari sini sebelum–”"Sebelum apa, Ziva? Sebelum Mama mertuamu melihat?" potong Aira cepat lalu tertawa lepas. "Aku ma







