**“Wah?” Senyum lebar menghiasi bibir Antares. Pria itu segera melangkah mendekat, meninggalkan Bentley di belakangnya. “Benarkah? Aku mau! Kau tahu, Sayang? Ini sakit sekali ….”Vega mendesis muak saat Antares mendekatkan wajah, menunjukkan lukanya dan pura-pura meringis kesakitan. “Sudah kulihat! Jangan menempel kepadaku begitu!”Tangga menuju lantai dua terasa lebih panjang dari biasanya bagi Vega. Langkahnya cepat, namun ada keraguan yang menggantung di setiap pijakan. Ia sesekali menoleh ke belakang, memastikan Antares masih mengikutinya. Rasa kasihan dan kesal membuat langkahnya kian berat.“Ayo, cepat! Jangan menyeret-nyeret langkah begitu. Yang terluka kan wajahmu, bukan kakimu,” katanya pelan, berusaha terdengar tegas meski nada bersalah tak bisa sepenuhnya disembunyikan.Antares hanya tersenyum lebar, seolah kejadian beberapa menit lalu bukan apa-apa. Satu sisi rahang dan pipinya semakin tampak memar. Pukulan Orion agaknya sekuat itu, hingga jelas terlihat di tulang pipinya
Read more