Share

16. Intrik Para Iblis

last update Tanggal publikasi: 2026-05-05 03:33:59

**

Metropole Royal Hospital, ruang VVIP.

Pria bersurai putih itu menyesap chamomile tea hangat yang baru saja ditinggalkan suster untuknya. Mulutnya mencecap rasa manis lembut dan aroma wangi yang menguar bersama uap panas di permukaan gelas, sementara sepasang mata gelapnya lurus memandang layar laptop yang terbuka di atas meja kecil di hadapannya.

Draco Reagan meletakkan gelas di cekungan kecil di atas meja. Kendati rambutnya sudah sepenuhnya berubah menjadi putih dan kerut-kerut longgar mula
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   100. New Born

    **Satu Tahun Kemudian“Please, bertahan. Kau bisa, Sayang. Aku di sini, kau bersamaku ….”Sepasang mata kelabu milik Antares itu basah. Jemarinya yang panjang gemetaran, menggenggam tangan pucat dan lemah milik Vega.Sebenarnya, ini adalah kali pertama Vega melihat Antares begitu emosional sampai menangis sepanjang ia mengenal pria itu.Namun, keadaan membuatnya tak mampu mencerna informasi nonverbal apapun yang ada di sekelilingnya saat ini.“Ssh … sakit sekali, Ares. Aku rasanya mau mati ….”“Tidak! Tidak, ayo berjuang sedikit lagi. Kau bisa, kau pasti bisa!”Vega memejamkan mata sesaat kala tekanan kencang seperti nyaris merobek bagian bawahnya. Selang oksigen yang membantu napasnya seperti tidak berguna. Ia merasa tercekik.“Dokter, tolong istriku! Lakukan sesuatu!” Antares berseru kepada wanita yang mengenakan pakaian steril biru muda di sampingnya. Yang anehnya, perempuan itu justru tersenyum.“Tidak bisa terburu-buru, Tuan. Kita harus mengikuti alur. Pembukaan masih belum leng

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   99. Berpamitan

    **"Apa kau yakin ini adalah keputusan yang paling tepat, Vega? Kau sudah memikirkan dengan sebaik-baiknya?"Vega mengangguk. Ia tersenyum, membalas genggaman tangan ibu mertuanya yang hangat."Keputusan yang tepat adalah membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, Ibu. Segalanya sudah tertata dengan sangat baik. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang salah. Perubahan hanya akan membuatnya rusak.""Kau sangat bijaksana." Lyra mengusap pipi menantunya yang bersemu kemerahan. "Aku dan ayahmu tidak akan melakukan apapun. Kami hanya akan meneruskan dan merawat perusahaan. Kelak jika anak-anak kalian sudah cukup mampu, kami akan kembalikan semuanya kepada mereka. Kepada kalian, yang memang berhak.""Aku sangat berterima kasih."Vega menjatuhkan diri ke dalam pelukan Lyra, dan wanita itu membalas dengan hangat. Kedua perempuan itu berpelukan lama. Lyra menambahkan tepukan-tepukan lembut di punggung Vega."Harus kau tahu, aku dan ayahmu sebenarnya keberatan jika kau meninggalkan mansi

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   98. Everything Is Over

    **DARR!Suara letusan itu datang tepat bersamaan dengan ketika Draco menarik pelatuk pistolnya hingga memuntahkan peluru yang bersarang tepat di dada sang cucu pertama.Lalu bersamaan pula dengan rebahnya tubuh Orion, tubuh Draco pun demikian.Pistol yang masih berasap terjatuh dari tangannya, seiring dengan tubuh tua yang terkulai pelan. Tidak seperti Orion yang masih sempat mengucapakan kata perpisahan terbata-bata kepada Vega, Draco tidak sempat sama sekali.Ia bahkan tidak tahu siapa yang menembakkan peluru hingga menembus belakang kepalanya. Hanya dalam waktu kurang dari tiga detik, hidup Draco Reagan berakhir dengan tragis.Sudah benar-benar berakhir. Darah menetes menuruni lehernya, matanya separuh memejam, dan ekspresi wajah terakhirnya kosong tak ada apapun.Tapi Antares melihatnya dengan sangat jelas. Pria itu kebingungan harus bereaksi bagaiamana. Sebab bersamaan dengan saudara kembarnya yang sekarat, kenyataan yang mencengangkan jelas terpampang di depan kedua matanya."S

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   97. He's Gone?

    **Jantung Vega rasanya seperti berhenti berdetak.Sepasang iris birunya melebar panik, kala melihat ujung pistol milik Draco yang sama sekali tidak bergerak. Lurus mengarah ke jantungnya.Perempuan itu memejamkan mata sejenak.Jika aku mati hari ini … Ya, sepertinya aku akan mati hari ini ....“Kau akan berakhir sama seperti kakekmu, Vega Capella. Pria bodoh yang percaya bahwa semua makhluk di dunia ini memiliki hati yang baik.”Vega tercekat mendengar kata-kata itu. Matanya kembali terbuka.“Ka-kau ….”“Kau sama bodohnya seperti kakekmu. Dan pada akhirnya, kau pun akan berakhir sama seperti dia. Mati di tanganku.”“Apa yang kau katakan?” Bibir Vega bergetar, membuat suaranya ikut parau. "Ja-jangan bercanda ...."Ia tidak mau mempercayai pendengarannya. Namun kata-kata itu terucap dengan sangat jelas.“Aku yang membunuh Kakekmu. Ayah dan ibumu, yang adalah ahli waris sah. Juga paman dan bibimu yang keberadaannya sempat mengancam kedudukanku. Sekarang tiba giliranmu. Kau juga akan ber

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   96. War Is Begin

    **“Kubesarkan kau dengan semua hal terbaik yang pernah kumiliki. Kuhabiskan separuh hidupku untuk membuatmu bisa hidup dengan layak. Dan ketika tiba waktumu untuk membalas semua pengorbanan yang sudah kulakukan, seperti ini kelakuanmu?”Draco bicara dengan suara sedingin es. Sorot matanya lurus, mengarah kepada cucu pertamanya yang sempat ia bangga-banggakan dulu. Saat ini, meski wajah tua itu tetap tampak datar, tapi ada seraut kekecewaan di sana. Orion merasa hatinya sesak. Tatapan dingin itu membuat dadanya nyeri.Ia tidak akan lupa. Tidak akan pernah lupa bagaimana Draco mendidiknya dengan keras sejak kecil. Menjadikannya hebat dan tak terkalahkan dari siapapun, termasuk saudara kembarnya sendiri, Antares.Orion tidak akan pernah lupa, bagaimana dulu Draco Reagan adalah satu-satunya sosok yang sangat ia kagumi. Panutannya, sosok yang ia idolakan.Namun ketika ia beranjak dewasa dan sedikit demi sedikit mulai mengerti arti kehidupan, lambat laun suara hatinya mulai bertentangan d

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   95. Disaster!

    **“Orion, ada apa denganmu?” Vega bertanya dengan benar-benar heran. Dahinya berkerut dalam, memandang suaminya.“Ayo, ikut aku keluar dari sini ….” Orion menarik lengan wanitanya untuk bangun dari ranjang. Ia melepas mantelnya dan menyelubungkan pada tubuh Vega. Lalu di depan pintu, pria itu kembali menarik yang lebih muda ke dalam dekapan.“Jaga dirimu, Vega. Aku janji tidak akan lama. Jika keadaan sudah membaik, aku akan membawamu kembali dan tidak akan mengurungmu di sini lagi. Kita akan hidup bersama dengan bahagia.”Orion terdengar sangat waras kala mengatakan itu. Ia melepas pelukan, mengecup dahi Vega lama, juga kedua pipinya.“Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu.”Hati Vega rasanya bergetar. Pernyataan itu bukan main-main, Vega tahu. Namun demikian, sepertinya Orion tak punya waktu untuk berlama-lama.Ia menggandeng tangan Vega menuju pintu kayu setebal baja, dan memutar anak kuncinya. Semakin kencang saja getaran dalam hati Vega. Dalam beberapa detik, ia akan mengh

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   76. Obsessed With You

    **“Pe-pelan … tolong pelan sedikit … ini sangat sakit ….”Air mata Vega berjatuhan menimpa air panas dalam bak mandi yang bergejolak hebat hingga tumpah ruah ke atas lantai kamar mandi.Pergerakan intens dari dua orang yang ada di dalamnya yang membuatnya demikian.“Angkat pinggulmu lebih tinggi l

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   38. Perjalanan

    **Di dalam Bentley berwarna silver yang sedang melaju tenang di atas jalanan utama kota Metropole yang tenang dan damai meski berselimut mendung pagi ini, Vega berkali-kali menghela napas dengan gusar. Perjalanan ke bandara setidaknya memakan waktu setengah jam, tapi perempuan itu justru berharap

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   35. Strategi Para Reagan

    **“Seseorang pasti sudah memberikan informasi kepada Regulus Skye, bahwa Vega sudah kita dapatkan. Dia datang ke sini dan terus mendesak.” Draco Reagan menjelaskan kepada cucu sulung dan putranya siang ini, di dalam ruang kerjanya yang sejuk. Aroma musk lembut menguar dari pengharum ruangan di sud

  • Di Antara Dua Kembar Yang Memilikiku   34. Intrik Halus

    **“Kakek ….” Vega memandang dua lembar kertas tebal di atas meja itu, lalu beralih kepada pria tua di hadapannya. Dahinya berkerut, ragu-ragu hendak menanyakan hal ini. Kendati begitu, perempuan itu tetap bersuara. “Tiketnya hanya ada dua lembar saja?”“Kau benar.” Senyum lebar Draco menghiasi waj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status