Udara luar gubuk menyambut Solvatar dengan embusan angin musim dingin yang menggigit. Namun, atmosfer terasa berbeda. Sinar matahari yang telah setinggi tombak itu jatuh tepat di atas kepala, memancarkan kehangatan yang perlahan mengikat darah serigalanya yang sejak semalam bergejolak liar. Di bawah langit Demura yang bersalju, darah itu mendadak menjadi patuh, tenang, dan bersiap tunduk di bawah kendali matahari pagi. Persis seperti yang dikatakan penyihir bulan. Di depannya, perempuan berjubah gelap itu berdiri tegak. Di atas kedua telapak tangan sang penyihir, sepasang taring emas milik Solvatar melayang, memancarkan pendaran cahaya emas murni yang kian pekat seiring meningginya matahari. “Berubahlah, Alpha,” titah penyihir bulan. Suaranya mendadak berat dan p
Read more