LOGINSolvatar segera bangkit begitu Garon melepaskan sekop kecilnya ke atas salju. Kepanikan yang langka menyergap wajah keriput pria tua itu tatkala matanya menangkap jubah Runala yang basah oleh noda merah tua.
Tanpa sepatah kata pun, Garon berbalik dengan langkah pincang yang tergesa, mendorong pintu kayu rumahnya hingga terbuka lebar. Solvatar menyusupkan kedua lengannya ke bawah tubuh Runala, mengangka
Aula itu membeku dalam satu tarikan napas panjang yang seolah-olah menolak bergerak.Udara di dalamnya terasa lebih berat. Setiap batu di pilar-pilar tinggi itu seperti ikut menyimpan ketegangan yang baru saja muncul. Cahaya purnama yang menembus kaca di langit-langit tidak lagi terasa hangat atau indah, melainkan jatuh seperti pisau tipis yang membelah ruang, menyorot dua sosok yang berdiri saling berhadapan di tengah karpet merah.Gema suara Solvatar masih menggantung di udara, belum sepenuhnya hilang. Namun, sudah cukup untuk merusak kesakralan malam penobatan itu. Beberapa bangsawan di kursi belakang bahkan tidak sadar mereka menahan napas terlalu lama.Di ujung yang berseberangan, Ragnavar yang masih berlutut dengan satu kaki di undakan takhta, tidak langsung bereaksi s
Sepasang netra Ragnavar berkilat puas, menanti kehancuran mental yang seharusnya merubuhkan pertahanan gadis di hadapannya. Namun, dingin yang menjalar di sekujur tubuh Runala justru perlahan mengkristal menjadi amarah yang pekat. Rongga dadanya yang sempat bergetar hebat kini dipaksa tegak.Runala mencengkeram erat gaun sutranya, menyembunyikan fakta bahwa kedua lutut di balik kain itu sedang bergetar hebat seolah-olah siap runtuh kapan saja. Gadis itu mendongak langsung pada mata sang penyerang ibu kandungnya.“Itu saja?”Seringai Ragnavar sempat membeku sejenak, tidak mengira akan mendapatkan reaksi sedingin itu.Runala menarik napas dalam-dalam, membiarkan angin malam purnama membersihkan aroma tubuh Ragna
Hutan malam itu diselimuti kesunyian yang mencekam, kontras dengan gemuruh yang sebentar lagi akan mengguncang dunia.Kala itu, Ragnavar masih remaja. Di bawah pendaran megah bulan purnama, dia berjalan di samping Raja Ricgard—ayahnya, memimpin barisan prajurit berbaju zirah perak dan biru. Bagi Ragnavar, misi patroli malam ini hanyalah sebuah kepura-puraan yang menjemukan. Sebuah misi kosong.Ini adalah pola yang selalu berulang setiap kali Ratu Ralitsa—ibunya, hendak melahirkan adik-adiknya. Ayahnya sengaja membawa putra sulungnya dan rombongan militer menjauh dari istana, membiarkan proses persalinan berjalan tenang tanpa intervensi yang bisa mengacaukan insting protektif sang ibu.Ragnavar, seperti biasa, ikut saja. Dia memasang topeng terbaiknya, bersikap pa
Matahari pagi musim dingin menggantung pucat di ufuk timur, memantulkan cahaya pada hamparan salju yang membeku.Di gerbang utama Volkara, kepulan napas para penjaga membubung seperti asap putih di udara. Roda-roda kayu dari kereta kuda tertutup berderit berat, memecah kesunyian fajar tatkala rombongan itu tertahan di depan barikade besi.“Berhenti! Semua kereta yang masuk harus melewati pemeriksaan!” bentak seorang penjaga. Tangan kanannya bertumpu pada hulu pedang, sementara hidungnya memerah akibat hawa dingin.Nachtmar, yang menunggangi kuda di barisan paling depan, menatap lurus dari balik celah helm besinya. Di balik jubah tebal, dia mengenakan zirah prajurit istana di atas pakaian hitam milik kawanan berlencana ular.
Malam itu, musim dingin mencengkeram barak Demura dengan cakarnya yang beku.Di langit, awan berarak tipis, sesekali menyingkap rupa rembulan. Bulan belum sepenuhnya bulat, masih berupa separuh cembung menuju purnama sempurna. Cahaya yang pucat menyiram hamparan salju dengan kilau keperakan yang dingin.Dari bukit yang sunyi, bangunan barak tampak seperti miniatur dari batu. Gerbang terbuka perlahan, mengizinkan iring-iringan keluar. Sebuah kereta kayu tertutup bergerak di tengah, dikawal sepuluh prajurit berkuda dan dua serigala pelacak.Ada yang ganjil dari para pengawal itu. Gerakan mereka tampak kaku dan lamban, seolah-olah kesulitan mengikuti guncangan jalan yang membeku. Setiap kali kuda mereka berguncang melewati jalanan berbatu yang membeku, para prajurit itu harus m
Runala menahan napas tatkala ruangan luas di tengah kamar itu tiba-tiba dipenuhi oleh gelombang energi yang pekat dan mengintimidasi.Di depan matanya, tubuh tegap Solvatar perlahan berubah. Tulang-tulangnya berderit, berganti menjadi wujud serigala berbulu cokelat dengan helai-helai emas. Namun, yang membuat jantung Runala berdegup kencang bukanlah ukurannya, melainkan kilatan berkilau di sela rahang tegas makhluk itu. Dua taring emas mencuat, memantulkan cahaya lilin dengan pendar magis yang memukau.Runala terpaku kagum, merasakan kehangatan instingtif sang Alpha yang menenangkan jiwanya. Di sudut ruangan, Nachtmar terperangah hingga melangkah mundur. Sisi serigalanya mendesak untuk berlutut memberi hormat pada legenda hidup di depannya.“Solvatar, bukankah kau&mdas
Runala mengerjap bingung, bulu matanya yang lentik mengepak cepat seiring dengan hatinya yang mendadak terasa menyempit. Hening yang pekat dari kamar sang Alpha seakan-akan meredam detak jantungnya sendiri.“Apa?”Suara gadis itu hampir berupa bisikan, pecah di antara derak kayu yang terbakar dalam
Langkah kaki mereka menghantam lantai lorong barak dengan irama yang kacau. Napas yang tadinya sudah tersengal-sengal akibat pertarungan jarak dekat di ruang latihan kini terasa makin membakar paru-paru Runala.Di sampingnya, Solvatar berlari dengan kecepatan mengerikan. Wajah sang Alpha yang biasa
Bau keringat, debu tanah, dan aroma pohon yang tajam memenuhi ruang latihan di sudut tersembunyi barak Demura. Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah-celah dinding batu yang renggang, membentuk garis-garis terang, memperlihatkan partikel debu yang menari di udara. Runala menyesuaikan posisi
Kesunyian di dalam kamar kepala desa terasa seperti pelukan yang dingin dan tidak tertembus. Ruangan itu memerangkap jejak aroma tubuh Solvatar bercampur wangi bunga yang baru saja Runala campur ekstraknya. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari perapian yang berderak. Runala sedang merapikan beb







