Home / Fantasi / Taring Emas Sang Alpha / 13. Nampan Kayu Besar

Share

13. Nampan Kayu Besar

Author: Lubna Karkata
last update publish date: 2026-04-29 21:50:06

Teras belakang barak itu berupa sebuah patio batu yang tersembunyi di balik dinding benteng, menghadap langsung ke hamparan lembah yang berselimut kabut tipis. Udara musim gugur yang mulai menggigit bercampur aroma tanah basah dan daun-daun kering. Cahaya matahari jatuh tepat di atas meja kayu kecil, tempat uap dari teh herbal menari-nari di udara.

Runala duduk di sebuah kursi kayu tua. Dia meraih cangkir dan menyesap teh sembari memandang sekeliling. Patio ini dibatasi oleh pagar batu setinggi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Taring Emas Sang Alpha   16. L

    Aroma jerami kering menyapa hidung Runala begitu memasuki area istal barak yang luas. Dia melangkah dalam jubah merah kusamnya seraya mencengkeram erat tali tas kulit berisi botol dan buku tentang tanaman. Solvatar yang menyuruhnya menunggu di sini. Lelaki itu berkata agar mereka bisa berangkat segera setelah persiapannya selesai. Istal ini berupa bangunan batu dengan pilar-pilar kayu raksasa, yang sanggup menampung sekitar dua puluh ekor kuda perang. Suasananya remang. Hanya diterangi cahaya matahari yang menerobos masuk melalui celah atap tinggi, menciptakan garis-garis debu emas yang menari di udara.Prajurit-prajurit Solvatar tampak sibuk di area luar. Denting zirah dan langkah kaki mereka bersahutan. Namun, di dalam istal ini, suasananya jauh lebih tenang.Runala berdiri di depan kandang seekor kuda jantan berbulu hitam legam. Kuda itu langsung menjulurkan kepala dari atas pintu kayu, seolah-olah menyambut kedatangannya. Sepasang netranya tampak lebih cerdas dari kuda biasa.Pe

  • Taring Emas Sang Alpha   15. Amarah yang Mendidih

    Keajaiban kembali datang dalam hidup Runala.Pagi itu, Runala terbangun dengan perasaan yang aneh. Semacam ada harapan yang membumbung tetapi sekaligus menyesakkan. Ini adalah hari keempat gadis itu tidur di satu ranjang yang sama dengan Solvatar. Bukan hal yang mudah, tentu saja. Biasanya, selama beberapa jam Runala akan terjaga. Kantuk kalah dengan debar jantungnya yang mendobrak seolah-olah hendak mematahkan tulang rusuknya. Hingga akhirnya beragam spekulasi membanjiri benaknya dan mengundang lelap di antara lelah.Bagaimanapun, Runala adalah manusia biasa.Seperti hari-hari sebelumnya, Solvatar sudah bangun lebih dahulu. Lelaki itu berdiri di hadapan cermin sedang mengenakan kemeja. Rambut hitamnya tampak berantakan. Tatkala menyadari pergerakan Runala, dia menoleh dan menatap ke arah ranjang.“Kau sudah bangun.” Solvatar mengedikkan kepala ke arah pintu. “Bersiaplah untuk sarapan.”“T-tapi, Yang Mulia. Saya belum menyiapkan Iron-Lily dan mengganti perban Anda,” protes Runala te

  • Taring Emas Sang Alpha   14. Gerakan Gadis Itu

    Langkah Runala menggema tidak beraturan di sepanjang lorong batu barak yang dingin. Gadis itu berlari tergopoh-gopoh, mengabaikan rasa perih di telapak kaki. Seorang prajurit tadi datang mengetuk pintu dengan wajah pucat.“Pangeran Solvatar memanggilmu ke ruang makan. Sekarang juga.”Suara lelaki itu gemetar hingga membuat benak Runala dipenuhi skenario buruk. Apakah lukanya terbuka lagi? Apakah racun perak itu menyebar ke jantungnya?Karena panik, buku catatan pengobatan milik Margreta yang sampulnya sudah kusam dan botol kecil berisi sari Flow-Root di tangannya terlepas. Runala memekik pelan tatkala botol itu menggelinding di lantai batu. “Jangan pecah, jangan pecah …,” bisik Runala panik. Beruntung, botol itu tertahan di sela pilar. Gadis itu segera menyambarnya dengan jemari yang bergetar, menggenggam botol mungil itu erat-erat di dekat dada, lalu kembali berlari. Jantungnya berdentum keras, bukan hanya karena lelah, tetapi karena bayangan Solvatar yang kesakitan kembali menghant

  • Taring Emas Sang Alpha   13. Nampan Kayu Besar

    Teras belakang barak itu berupa sebuah patio batu yang tersembunyi di balik dinding benteng, menghadap langsung ke hamparan lembah yang berselimut kabut tipis. Udara musim gugur yang mulai menggigit bercampur aroma tanah basah dan daun-daun kering. Cahaya matahari jatuh tepat di atas meja kayu kecil, tempat uap dari teh herbal menari-nari di udara.Runala duduk di sebuah kursi kayu tua. Dia meraih cangkir dan menyesap teh sembari memandang sekeliling. Patio ini dibatasi oleh pagar batu setinggi pinggang. Di atas pagar itu, jeruji besi hitam bergerigi mencuat dengan ujung-ujung tajam yang tampak seperti duri mawar raksasa. Seakan-akan itu adalah pengingat bahwa keindahan di tempat ini selalu dijaga oleh ancaman kematian.Langkah kaki yang berat dan ritmis memecah kesunyian. Seorang koki militer bertubuh tegap masuk dengan ekspresi datar. Tanpa sedikit pun keramahan, dia meletakkan nampan kayu besar berisi potongan daging asap yang masih mengepul, roti gandum tebal yang kasar, dan sema

  • Taring Emas Sang Alpha   12. Aroma Hutan dan Badai

    Kelopak mata Runala terasa berat. Bagaikan ada monolit bergelayut di setiap helai bulu mata. Namun, aroma hutan dan badai yang mulai tenang di dalam dada membuat gadis itu terjaga.Begitu membuka mata, Runala menemukan dirinya terbungkus jubah milik Solvatar. Kain tebal itu masih menyimpan sisa panas tubuh pemiliknya, seakan-akan sang Alpha baru saja melepaskannya sedetik yang lalu.Jantung Runala berdebar kencang. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Air dingin langsung menyentak kesadarannya. Seraya menatap pantulan dirinya yang sedikit pucat di cermin, gadis itu menarik napas dalam, berusaha memanggil kembali ketenangan yang diajarkan Margreta.“Selamat pagi, putriku yang cantik. Hari ini adalah hari yang baik,” bisik Runala menirukan nada bicara sang ibunda. Gadis itu berusaha tersenyum kendatipun jemarinya masih sedikit gemetar. Ritual sederhana itu adalah satu-satunya benteng yang menjaga jiwanya agar tidak runtuh di tengah badai kehidupan. Setelah selesai, Runala s

  • Taring Emas Sang Alpha   11. Sebuah Pintu Menuju Kenyataan

    Langkah kaki Solvatar bergema berat di sepanjang lorong batu yang dingin menuju ruang strategi. Di pundaknya, jubah kebesaran berwarna hitam dengan bordir benang emas menjuntai gagah, menyembunyikan pundaknya yang lebar tetapi sebenarnya masih menyimpan sisa nyeri. Begitu pintu kayu itu terbuka, bau besi, dan minyak senjata langsung menyergap indra penciumannya.Di dalam ruangan, sepuluh prajurit elite berdiri tegak dalam formasi sempurna. Mereka mengenakan zirah khas kerajaan. Perpaduan antara kain biru dongker tebal dan pelat besi berwarna perak yang memantulkan cahaya obor. Warna itu adalah simbol kehormatan sekaligus peringatan; biru untuk ketenangan, perak untuk ketajaman.Di ujung meja peta, berdiri komandan tertinggi barak sekaligus tangan kanan Solvatar.“Yang Mulia,” sapa komandan dengan suara berat, membungkuk hormat. Namun, matanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran tatkala melihat wajah Solvatar yang sedikit pucat. “Anda seharusnya masih berada di ranjang. Luka di bahu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status