Maura yang mendengar hanya bisa mendengkus pelan, kehabisan kata-kata. Jangankan membalas candaan tengil suaminya, untuk sekadar menggeser tangannya saja rasanya bahu Maura sudah seperti lumpuh. Pipi dan tubuhnya yang masih menempel di atas kasur terasa panas, semakin panas saat dirinya mulai kembali dari awang-awang ."Bisa... cabut nggak, Mas?" cicit Maura akhirnya, suaranya pelan dan serak, hampir tenggelam di balik bantal. "Berat, kamu nindih aku."Bumi malah terkekeh rendah, suara tawanya yang dalam bergetar langsung di punggung Maura. Bukannya menurut, dosen muda itu justru makin mengeratkan dekapannya, menyusupkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu istrinya sambil menghirup wangi Maura yang memabukkan."Entar dulu," bisik Bumi manja, baru ini Maura tahu pria itu bisa semanja itu. "Masih betah di dalam. Anget.""Ihh..." rengek Maura lirih, mencoba menyiku pelan pinggang suaminya walau pukulannya tak ada tenaga sama sekali. "Entar keluar semua itu, kotor...""Ya biarin kotor
Ler mais