Napas sang mama tertahan di tenggorokan. Suara Maura tenang dari seberang telepon terasa bagai sembilu yang menggores harga dirinya.Dengan tangan tegang, dia menguatkan pegangannya di HP, berusaha menelan bulat-bulat gengsi dan amarah yang merintih di dalam dada."M-Maura, ini Mama," sapanya terbata, suaranya terdengar serak dan sangat jauh dari kesan angkuh yang biasanya dia perlihatkan.Di seberang sana, hening sejenak. Maura yang baru saja akan turun untuk memanasi lauk untuk makan malam, mendadak menghentikan langkahnya. Dia menjauhkan HP dari telinga sebentar untuk memastikan nama di layar, lalu menempelkannya lagi."Iya, Ma. Ada apa?" jawab Maura datar, tanpa embel-embel kehangatan, tapi tetap berusaha sopan.Di seberang hening. Sang mama tampak memijat pelipisnya sendiri, sesekali melirik ke samping, ke suaminya yang seakan menunggu dia memohon ke Maura. Gadis yang dia besarkan sejak bayi itu."Ma? Ada apa? Orang rumah sehat?" tanya Maura kemudian, memotong keheningan canggung
Ler mais