Disusul derap langkah kaki pelan yang menuruni tangga satu per satu.Bukan suara jeritan atau tangisan histeris yang terdengar, melainkan kesunyian yang amat canggung. Papa Maura berjalan lebih dulu di depan, sementara Sang Mama membimbing Dira dari samping. Dira, kini menunduk dalam-dalam. Wajahnya pucat pasasi, matanya sembap, dan bahunya tampak meliuk lesu seolah seluruh dinding pertahanannya baru saja dirobohkan tanpa sisa.Kebohongan yang tersudutkan memang tak lagi punya suara untuk melengking.Maura menyenggol lengan suaminya pelan, membelalakkan mata seolah bertanya, 'Kok bisa?!'Bumi tak menjawab. Pria itu justru tersenyum tipis, jemarinya di balik pinggul Maura menepuk-nepuk pelan."Dira udah siap, Ayo berangkat," ujar Sang Papa. Beliau menatap Bumi penuh bimbang. Pria separuh baya itu tak tahu siapa yang benar, tapi setidaknya dengan cara ini semua hal akan menemukan jalannya."Yaudah, ayo berangkat sekarang," sahut Bumi tenang. Dia beranjak berdiri dari sofa, tanpa melepa
Read more