Malam semakin larut, namun hawa dingin di luar kompleks Kuningan Residence seolah tidak mampu membekukan darah Bara yang sedang mendidih. Di bawah lampu jalan yang temaram, beberapa puluh meter dari pos penjagaan utama yang dijaga ketat, Bara berdiri menyandarkan tubuhnya pada jok motor. Jaket denimnya terasa lembap oleh embun malam, tetapi sepasang matanya tidak berkedip sedikit pun, terus mengunci pandangan ke arah menara apartemen megah tempat Alana berada. Dua puluh panggilan teleponnya diabaikan total. Pesan demi pesan yang ia kirimkan hanya berakhir dengan tanda centang abu-abu. "Lo bener-bener berubah, Al. Lo sengaja ngilang dan sembunyi di balik ketiak dosen kaya itu, kan?" desis Bara dengan suara serak, meremas ponsel di tangannya hingga buku jarinya memutih. Rasa diabaikan, cemburu, dan penasaran yang menumpuk selama beberapa hari terakhir akhirnya membuat Bara kehilangan akal sehat. Ia nekat mendatangi kompleks elit ini malam-malam, menerobos
อ่านเพิ่มเติม