Genggaman ponsel di tangan Alana nyaris terlepas. Kalimat Aksa laksana hantaman gada yang membuat otaknya membeku. "D-Dicuri, Mas? Tapi bagaimana bisa? Bukannya ruangan Mas Aksa selalu dikunci?" "Itulah masalahnya. Pelakunya sangat rapi. Tidak ada tanda perusakan paksa di pintu luar, artinya ada yang menduplikasi kunci ruangan saya atau memanfaatkan kelengahan staf," jawab Aksa di seberang telepon, suaranya kini kembali ditekan serendah mungkin untuk menjaga kerahasiaan."Saya harus mengurus berkas berita acara internal fakultas dulu. Kamu tetap di apartemen, jangan temui siapa pun." "Tapi, Mas... aku harus ketemu Keira sama Elara sekarang di kafe belakang kampus," bisik Alana panik. "Mereka... mereka udah tahu semuanya. Elara nemuin paspor kita di laci meja rias." Hening sejenak di seberang sana. Aksa mengembuskan napas berat. "Sahabat-sahabatmu sudah tahu? Sial, waktunya benar-benar tidak tepat. Ya sudah, kalau mereka memang menunggumu, temui mereka. Tapi jangan sebutkan soal hil
อ่านเพิ่มเติม