Pintu kamar rawat VIP itu seketika berderit, mengoyak keheningan yang teramat pekat dan dingin. Langkah kaki yang biasanya terdengar begitu angkuh, sekarang mengalun berat, sarat akan kecemasan yang mendalam.Arseny melangkah masuk, membawa serta aroma angin malam dan keputusasaan. Pria tegap yang biasanya selalu tampak megah dalam setelan jas tanpa cela itu, kini terlihat seperti pria yang baru saja luruh dihantam badai. Kemeja hitamnya tampak kusut, beberapa kancing atasnya terbuka, berantakan, dan rambut hitamnya tak lagi tersisir rapi. Rahangnya mengatup sangat rapat, menciptakan gari-garis ketegangan yang kentara di lehernya, seolah ia sedang menahan beban seluruh dunia di pundaknya.Mata abu-abunya yang serupa langit musim dingin langsung tertuju pada sosok rapuh yang terbaring di atas ranjang. Hatinya serasa diremas sembilu melihat betapa pucat dan ringkihnya Elara saat ini.Tanpa memedulikan batas kasatmata yang selalu ia jaga, Arseny melangkah mendekat, memangkas jarak yang
Read more