Hari-hari berlalu sunyi bagi Elara. Ketidakhadiran sang Don di vila Romanov kian menggerogoti ketenangannya, ini menyisakan ruang hampa dalam dada.Guna mengusir kemurungan yang menggelayut, Lena tak pernah absen membawakan seikat bunga seruni putih segar ke dalam kamar. Wanita paruh baya itu juga kerap memintal benang, membuatkan baju hangat untuk Elara, atau mengajak gadis itu menghabiskan waktu dengan merajut bersama di dekat perapian.Elara mennunjukkan hasil rajutannya, pun tangannya bergerak membentuk isyarat.“Bibi, bagaimana dengan sepatu bayi ini? Bukankah bentuknya sangat menggemaskan?”"Anda teramat pandai merajut, Nona," puji Lena, pandangannya berbinar penuh kehangatan.Seketika alarm di atas nakas berdering. Lena lekas berdiri. "Nona, ini sudah memasuki jam makan malam Anda. Sebaiknya Anda mengisi perut lebih awal."Elara mengiakan, tak apa belum lapar. Ia akan memaksakannya.Tak lama kemudian, Lena datang bersama nampan berisi menu khusus sesuai instruksi dari dokter sp
Read more