Di sisi lain, Vanya sedang memegangi perutnya yang terasa teramat kram dan kosong. Wajah cantiknya tampak seperti mayat, dengan bekas air mata yang tampak jelas mengering di sela-sela pipinya. Di punggung tangannya, saluran selang infus menancap.Sepasang matanya menatap tajam penuh dendam ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat."Anakku...," bisik Vanya, suaranya parau dan bergetar hebat. "Tuan Muda keterlaluan. Biadab! Ini anakku!"Vanya lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar rawat yang sunyi itu. Sial, tidak ada celah sama sekali baginya untuk kabur. Bahkan pintu dijaga ketat dan jendela pun terkunci dari luar.Detik itu juga, seorang perawat muda masuk dengan menunduk, membawa nampan berisi beberapa butir obat dan segelas air."Nona, silakan diminum. Obat ini akan membuat Anda merasa lebih baik," ucap perawat itu dengan hati-hati."Aku tidak mau!" bentak Vanya, menepis nampan itu.Perawat itu seketika gemetar, memohon. "Nona, kumohon minumlah. Jika Anda menolak, saya a
Read more