로그인Ketegangan di koridor remang paviliun barat itu mendadak mencapai titik didih. Jarak yang tersisa di antara mereka kini tidak lebih dari beberapa sentimeter. Aeri bisa merasakan deru napas Eryx yang teratur namun terasa begitu mengintimidasi, sementara punggungnya semakin merapat pada dinginnya dinding marmer.Eryx menundukkan kepala sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata pengawalnya dengan tatapan pekat yang seolah sanggup menguliti seluruh rahasia di dalam jiwanya."Aeri."Satu kata itu lolos dari bibir Eryx dengan nada bariton yang teramat halus, namun efeknya laksana bom yang meledak tepat di telinga Aeri. Tubuh gadis itu tersentak hebat di balik seragam taktis kaku "Gahensa" yang dikenakannya. Seluruh pasokan udara di parunya seolah tersedot habis. Bagaimana bisa? Dari mana pria ini tahu nama aslinya? Nama yang bahkan tidak pernah ia sebutkan pada Calixto di dalam mansion ini.Melihat reaksi syok yang terpancar jelas dari sepasang mata Aeri, Eryx menyeringai kecil. Sebuah
Selena mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ucapan Eryx yang meremehkan kegigihannya bagai tamparan keras yang membakar harga dirinya. Ia melangkah maju, menatap punggung kakaknya yang hendak pergi dengan tatapan penuh kebencian."Apakah kau tidak terlalu sombong, Eryx?!" seru Selena, suaranya bergetar menahan amarah yang meluap. "Kau telah berubah! Kau bukan lagi Eryx yang kukenal. Kau pikir setelah memegang stempel emas itu, kau bisa berdiri sendiri tanpa dukunganku?!"Eryx menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Tanpa membalikkan tubuh sepenuhnya, ia hanya menolehkan kepalanya sedikit, memberikan lirikan yang teramat dingin. "Aku memang berubah, Selena. Dan jika kau ingin tahu alasannya... itu karena aku sudah tertarik pada wanita lain. Wanita yang jauh lebih berharga daripada seluruh intrik politik busukmu."Wajah Selena menegang. Keberadaan wanita lain di radar Eryx adalah variabel acak yang bisa merusak seluruh rencananya. Keanggunannya menguap, diganti
Eryx menepis kasar tangan Selena dari kerahnya, melangkah mundur satu blok marmer untuk menegaskan batas di antara mereka. Tatapannya laksana pedang beralur es yang siap menguliti kebohongan adiknya. "Kau tidak pernah melakukan apa pun demi orang lain kecuali dirimu sendiri, Selena. Jangan menjual kata 'tulus' di hadapanku."Selena terengah kecil, menatap tangannya yang baru saja dihempaskan. Alih-alih murka, ia justru mengembuskan napas panjang, mengubah raut wajahnya menjadi topeng kerapuhan yang teramat manipulatif. Ia menatap Eryx dengan sepasang mata yang berkaca-kaca."Kau salah, Eryx," ucap Selena, suaranya melunak, bergetar oleh emosi yang tertahan. "Kali ini aku bersungguh-sungguh. Semua yang kulakukan di balik layar—memalsukan dokumen itu, menahan informasi dari publik—adalah karena aku ingin kebahagiaan untukmu. Aku ingin kau naik takhta tanpa ada batu sandungan yang bisa menghancurkanmu!""Kebahagiaanku?" Eryx menyangkalnya dengan tawa hambar yang memotong kalimat Selena t
Eryx bukan pria bodoh. Sepanjang malam setelah pembicaraan di taman paviliun barat itu, ia tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mengingat sorot mata "Rhea" saat membahas tentang mendiang sekretarisnya, ada sesuatu yang terasa janggal. Ketertarikan pengawal pribadinya itu pada kasus Felix terlalu mendalam, terlalu personal, dan terlalu sarat akan emosi untuk ukuran seorang asing yang mengaku hanya mengincar uang dan kekuasaan Leander. Pagi-pagi sekali, tanpa membawa pengawal lain dan tanpa sepengetahuan Aeri, Eryx mengambil langkah ekstrem. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju distrik pinggiran tempat orang tua Felix tinggal. Rumah tua itu tampak sepi dan diselimuti duka yang belum usai. Kedatangan sang calon kepala dinasti Leander tentu mengejutkan kedua orang tua yang telah berambut perak itu. Mereka menyambutnya dengan ketakutan yang kentara. Eryx duduk di kursi kayu yang berderit, menolak teh yang disuguhkan. "Aku tidak akan lama," ucap Eryx datar, matanya menyisir ruang
Eryx memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan sepasang manik mata gelapnya mengunci wajah Aeri. Di bawah remang cahaya lampu taman, keheningan di antara mereka terasa sangat berbeda dari biasanya—bukan lagi ketegangan yang mencekik dari dua orang yang saling mengintai, melainkan kesunyian yang aneh dari dua orang yang sama-sama tersesat dalam labirin nestapa."Kau juga sedih?" Eryx mengulang kalimat itu dengan suara rendah, nyaris menyerupai bisikan angin malam. Sudut bibirnya terangkat tipis, mengukir senyuman hambar yang sarat akan kepasrahan. "Karena apa, Gahensa? Atau... haruskah aku memanggilmu Rhea malam ini?"Aeri terenyak kecil saat nama palsu itu kembali diucapkan. Ia buru-buru membuang pandangannya ke arah hamparan mawar hitam yang tumbuh liar di tepi kolam taman. "Saya sedih karena melihat bagaimana dunia ini berjalan, Tuan Muda. Di tempat seperti Leander, kebenaran terasa seperti barang mewah yang sengaja dikubur demi angka-angka di atas kertas logistik. Nyawa seseorang s
Rapat besar Dewan Tetua malam itu akhirnya ditutup tanpa konklusi mutlak mengenai kematian Felix, menyisakan ketegangan laten yang siap meledak kapan saja. Begitu para petinggi membubarkan diri, atmosfer di dalam kediaman Leander justru kian memekat.Di salah satu sudut koridor remang yang menuju ke arah taman sayap barat, Selena melangkah dengan anggun namun tergesa. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia telah mengatur pertemuan sepihak. Di sana, bersandar pada pilar marmer, berdiri detektif kementerian terbaik yang belakangan ini mengobrak-abrik ketenangan dinasti mereka.Selena berhenti beberapa langkah di hadapan pria itu, melipat kedua tangannya di dada dengan dagu terangkat tinggi. "Siapa yang memintamu mengungkap kembali kasus Felix?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi. "Kematian seorang pengawal rendahan tidak akan membuat detektif sekelasmu bergerak semudah ini, kecuali ada bidak besar yang membayarmu."Namun, detektif itu hanya tersenyum tipis, enggan menjawab. Ia memperbaiki le
Enam bulan kemudian, Aeri masuk ke akademi keamanan elite dengan nama palsu dan identitas palsu yaitu Gahensa Xan. Selama enam bulan itu, dia berlatih sangat keras. Ketika kakaknya libur bekerja, dia biasanya cerita soal pekerjaannya termasuk bagaimana caranya menjadi seorang pengawal terlatih. Dan
Jasad Felix berbaring di ruang perawatan dengan pakaian formal yang terlalu rapi. Aeri Roseanne berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, tidak menangis. Matanya—mata yang indah dengan irisan mata yang tajam—tetap terbuka mengamati wajah kakaknya yang sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi
"Kak Gahensa, kenapa kamu buru-buru sekali? Aku masih hidup sekarang. Artinya adalah, aku masih bisa bertarung," bisik Eryx di depan wajah Aeri. Aeri menahan nafas dengan kedua mata terbelalak. Lagi-lagi dia gegabah. Namun jika tidak didorong, bagaimana dia akan segera mengetahui dibalik kematia
Di daratan utama, jeritan peluru di Gudang 44 akhirnya mereda. Pasukan elite akademi yang digerakkan oleh dana taktis Eryx, berkolaborasi dengan tim taktis Tiago Leander, berhasil membalikkan keadaan. Alih-alih melakukan pembantaian, perintah mutlak dari Eryx yang diteruskan secara rahasia membu







