"Lady, cepat selamatkan Yang Mulua," desak Tabib Khaelus. Alara tertegeun sejenak. Dia nampak bingung. "Aku tak bisa." Air mata mulai mengalir dari kedua mata Alara. Dia frustasi dan putus asa. Seolah-olah dunia sudah berhenti. 'Apa yang bisa kulakukan? Aku tak punya tabung oksigen. Tak ada alat pemantau detak jantung. Aku butuh ruangan operasi moderen,' batin Alara. Tangan Alara ditarik oleh Cassian. "Lady, cepat selamatkan Yang Mulia. Apa yang Anda tunggu?" Cassian terus mendesak Alara. Alara semakin frustasi. Dia menatap ke arah wajah Varek. Wajah yang seolah meminta pertolongannya. Kaki Alara lemas seolah tak kuat untuk berdiri. Kebingungan merayap di sekujur tubignya. Peralatan medis yang ada di tangannya jatuh ke tanah. "Maaf, aku tak tahu apa yang harus kulakukan," ujar Alara. Dia menangis. "Luka itu terlalu sulit untuk ditangani. 'Kevin, kumohon jangan pergi. Maafkan aku,' batin Alara. Alara tanpa sadar menangis. Dia menangis sambil menatap ke arah tanah. Kakin
Read More