"Siapa?" Alara lamgsung menyahut panggilan itu. Tidak peduli seberapa kacau hatinya saat ini, ntawa seseorang lebih penting daripada semua itu. Mireya nampak menarik-narik tangan kanan Alara. Seketika kaki Alara yang terasa malas melangkah itu dipaksa bergerak secepat mungkin. Berbagai pertanyaan bergelayut di pukiran Alara. "Ayo, Lady. Kita harus cepat!" Mireya tidak menjawab pertanyaan Alara. Dia terus membawa Alara bergerak secepat mungkin keluar dari area ruangan komando. Nampak ada kerumunan orang-orang yang wajahnya terasa asing. Kerumuman itu berupa gerombolan warga biasa yang nampak berpindah-pindah. Rombongan itu terdiri dari belasan orang tang terdiri dari beragam usia. Ada orang dewasa, orang lanjut usia, anak-anak dan bayi. Belasan orang itu nampak kurus kering. Pakaian mereka terlihat cukup lusuh. Beberapa diantaranya terlihag memakai pakaian yang robek dengan tambalan di sana-sini. "Tolong kami, tolong kami, Duhai Tuan Prajurit. Kumohon, tolong kami," ter
Read More