"Tunggu!" Varek berusaha mencegah Alara untuk keluar dari ruangan kamar sederhana yang disekat itu. Tangan Alara berusaha Varek genggam, namun Alara bergerak lebih cepat daripada dugaannya. "Biarkan aku pergi!" gertak Alara. Dia menangkia genggaman tangan Varek. "Aku tak takut pada siapa pun. Para penjahat itu harus berbicara di hadapanku!" Alara tak gentar. Dia terao saja berusaha melanglah keluar. Meski rasa sakit itu masih membekas di lehernya. Perban tipis masih menutupi leher kurus tubuh Lady Norabel. "Lady, Anda mau pergi kemana?" tanya Mireya. Dia nampak membawa nampan berisi makanan. "Mireya," Alara langsung teringat pada gadis itu. Mireya, gadis dari Kota Frostlyen. Dia sudah janji pada Tabib Maelor - ayah Mireya - untuk selalu menjaga putri tunggalnya itu. Alara menatap ke arah leher Mireya. Nampak perban tipis yang masih melilit leher mungil itu. "Lady," panggil Alara. "Kenapa Anda menangis?" Alara memeluk tubuh Mireya dari arah samping. Dia menangis terisak
อ่านเพิ่มเติม