Manusia itu tak bisa hidup abadi, jika sudah saatnya pergi, kita hanya bisa diam, membisu tanpa kata, hanya air mata yang mewakili rasa sakit yang nyata di dalam hati."Ibu, Ibu, jangan tinggalkan Jinyi. Bukankah kata Ibu sudah berjanji pada Jinyi. Ibu bangun, kenapa Ibu pergi seperti Putra Mahkota."Semua orang diam, para pelayat itu datang dalam keheningan setelah kabar kematian mendadak istri Gu Jixuan.Tabib mengatakan paru-parunya telah rusak, dan tidak disadari.Gu Jixuan diam terpukul, kepalanya menunduk dengan pakaian berkabung. Dia tidak bicara sepatah katapun sejak malam itu. Bahkan kotak yang dia temukan di kamar mendiang istrinya belum dia buka."Jinyi sudah, jangan menangis. Biarkan Ibu pergi dengan tenang. Ibu sudah bahagia bersama para dewa." Gu Yanli mencoba menenangkan. Namun anak itu enggan beranjak pergi dari sisi peti ibunya. Dia terus duduk di sana, menangis dan berteriak histeris. Berharap ibunya akan terbangun lagi, dan memeluknya erat."Bibi Yanli, padahal Ibu
اقرأ المزيد