"Di waktu perpisahan kita, adalah waktu paling menyedihkan dalam hidupku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kau tak berada di sisiku. Gu Qingran, bagaimana caranya aku bisa melupakanmu, sementara dirimu tak mau pergi dari pikiranku?" — Gu Jixuan "Kau!" Tubuh Gu Qingran nyaris jatuh ke lantai dingin atap gedung rumah sakit tempatnya bekerja. Di hadapannya, seorang lelaki berdiri dengan balutan jas Armani hitam yang mahal. Lelaki itu tersenyum kepadanya, tetapi bukan senyumnya yang membuat Gu Qingran terpaku, bukan pula wajahnya yang begitu tampan, melainkan karena pria itu adalah... "Gu Jixuan!" Gu Qingran membekap mulutnya dengan telapak tangan. Mungkin dia sedang bermimpi. Jika memang ini mimpi, dia berharap bisa terus berada di sini dan tidak pernah terbangun lagi. Namun ketika dia mencubit lengannya sendiri, rasa sakit yang teramat nyata langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. "Ini bukan mimpi," gumamnya lirih. Kedua tangan lelaki di hadapannya yang semula
Read more