Pak Kades menyandarkan tubuhnya ke kursi bambu sambil menyeringai penuh kemenangan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Ujang dan Pak RT, seolah sedang menikmati mangsa yang sebentar lagi masuk ke perangkap."Anak muda ini saja berani," ejeknya sambil terkekeh. "Masa Pak RT yang sudah kenyang pengalaman malah takut?"Ucapan itu membuat beberapa warga ikut melirik ke arah Pak RT. Ada yang tersenyum geli, ada pula yang menggeleng pelan. Semua tahu sifat Pak Kades. Jika sudah mencium aroma uang, lidahnya lebih tajam daripada pisau.Pak RT mengusap tengkuknya yang mulai berkeringat."Kamu serius, Jang?" tanyanya lirih. "Kalau kalah bagaimana? Satu juta tadi sudah untung bisa balik. Menurut bapak, lebih baik kita berhenti saja."Ujang justru tersenyum santai. "Tenang saja, Pak RT." Nada suaranya pelan, tetapi penuh keyakinan."Saya memang punya urusan pribadi dengan Pak Kades. Saya ingin menang... sekaligus membuat beliau merasakan bagaimana rasanya kalah."Pak RT mengernyit. "Kamu benar-
Read more