Satu demi satu tubuh para preman bergelimpangan di halaman restoran.Ada yang tersungkur di atas tanah berdebu. Ada yang menabrak tumpukan material bangunan. Beberapa lainnya terduduk sambil memegangi dada dan perut, wajah mereka meringis menahan nyeri. Tidak ada satu pun yang mampu berdiri untuk melanjutkan perlawanan.Ujang berdiri di tengah halaman dengan napas tetap teratur. Keringat hanya membasahi sedikit pelipisnya.Energi panas dari Cincin Akik Merah masih berdenyut di tubuhnya. Aliran hangat itu bergerak melalui jaringan energinya, membuat otot-ototnya terasa ringan dan penuh tenaga.Ia menatap tangannya sendiri sebentar. Sejujurnya, Ujang juga sedikit heran.Biasanya, menghadapi belasan orang sekaligus tetap membutuhkan konsentrasi. Namun, kali ini semuanya terasa terlalu mudah.Ia mengangkat kepala. Di depannya, Steven berdiri kaku.Wajah pemuda itu merah padam. Mulutnya terbuka, tetapi tidak segera mengeluarkan suara.Sementara itu, Udin masih menatap Ujang seperti melihat
Read more