Share

Chapter 41

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-05-11 10:15:13

Citra Anggraini cukup cerdas untuk tahu kapan harus menyerang. Dan lebih cerdas lagi untuk tahu kapan harus diam. Menuduh langsung hanya akan membuat Rafael Mahendra defensif. Mendesak terlalu keras hanya akan membuatnya menjauh. Jadi Citra memilih cara yang lebih halus.

Citra tidak pernah bertanya banyak, tidak menangis, tidak juga marah. Ia hanya... diam dengan cara yang membuat Rafael merasa bersalah. Dan itu jauh lebih efektif.

Pagi itu, Rafael datang ke kelas seperti biasa. Citra sudah d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 113

    Rumah keluarga Wijaya terasa begitu sunyi malam itu. Di atas meja kerja, laptop Anindya masih menyala. Lembar demi lembar revisi skripsi terbuka di layar, tetapi sejak hampir satu jam yang lalu, tidak satu pun kalimat berhasil ia baca. Pikirannya terus kembali pada percakapannya dengan Arkana.'Kalau suatu hari nanti kamu berubah pikiran... aku akan melepaskanmu.' Kalimat itu masih terdengar jelas di telinganya. Anindya memejamkan mata. Seminggu telah berlalu sejak mereka bertemu di taman. Selama seminggu itu, Arkana benar-benar menepati janjinya. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Tidak ada bunga. Tidak ada kejutan kecil seperti yang biasa dilakukan laki-laki itu.Anindya tahu... Bukan karena Arkana tidak peduli. Justru karena Arkana terlalu menghargai permintaannya. Seharusnya ia merasa lega. Bukankah memang itu yang ia inginkan?Namun anehnya... Semakin lama Arkana tidak muncul, semakin kosong pula perasaannya. Anindya menghela napas panjang."Kenapa jadi begini..."Ia bangkit da

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 112

    Chapter 109 – Tanpa KehadirannyaHari pertama sejak Anindya meminta waktu. Arkana masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa Anindya hanya membutuhkan waktu. Bukankah Anindya sendiri yang mengatakan mereka tidak putus? Ia hanya meminta waktu untuk menenangkan diri. Kalimat itu terus diulang Arkana di dalam kepalanya. Namun, mengetahui alasannya dan benar-benar menjalaninya adalah dua hal yang berbeda.Pagi itu, seperti biasa mobil keluarga Pratama memasuki area Universitas Garuda Nasional. Sopir membuka pintu mobil dan membantu Arkana turun ke kursi rodanya."Terima kasih, Pak.""Sama-sama, Tuan Muda."Biasanya, setelah sampai di kampus, Arkana akan langsung menuju gedung Manajemen Strategis. Bukan karena kelasnya di sana. Melainkan karena ia tahu Anindya hampir selalu datang lebih awal. Mereka akan sarapan bersama sebelum masing-masing masuk ke kelas. Sudah hampir empat tahun rutinitas itu berjalan. Hari ini... Arkana hanya memandang ke arah gedung itu dari kejauhan. Lalu mengembuskan n

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 111

    Sudah dua hari sejak pertengkaran mereka di taman kampus. Dua hari. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran, Anindya benar-benar tidak menghubungi Arkana.Tidak ada pesan selamat pagi. Tidak ada foto makanan yang biasa ia kirim saat makan siang. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, 'Sudah makan?' atau 'Kuliahmu selesai jam berapa?'Semuanya menghilang. Arkana berkali-kali membuka layar ponselnya. Kotak percakapan mereka tetap menjadi yang paling atas. Namun tidak ada pesan baru. Ia beberapa kali ingin mengetik sesuatu.'Maaf.''Apa kita bisa bicara?''Aku jemput pulang?'Semua kalimat itu ditulis. Lalu dihapus kembali. Hingga akhirnya, pada malam kedua, Arkana menyadari satu hal. Jika ia terus diam, jurang di antara mereka hanya akan semakin lebar. Ia menarik napas panjang. Lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali."...Halo."Suara Anindya terdengar pelan. Tidak dingin. Namun juga tidak sehangat biasanya."Anin...""Ada apa?"

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 110

    Sejak percakapan antara Arkana dengan Tuan Adipati beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang berubah pada diri Arkana.Perubahannya tidak besar. Bahkan mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun bagi Anindya... Perubahan sekecil apa pun pada Arkana hampir tidak pernah luput dari perhatiannya.Arkana masih menghubunginya setiap pagi. Masih menjemputnya ke kampus dengan sopir keluarga Pratama. Masih menemaninya makan siang ketika jadwal kuliah mereka bertemu. Masih mengantar pulang seperti biasa. Semuanya tetap sama. Setidaknya di permukaan. Namun, Arkana menjadi jauh lebih pendiam.Ketika Anindya bercerita tentang dosen yang tiba-tiba memberi revisi tambahan, Arkana tetap mendengarkan, tetapi jawabannya hanya singkat."Hm.""Iya.""Bagus."Sesekali ia tersenyum. Tetapi senyumnya tidak lagi benar-benar sampai ke matanya.Anindya mencoba mengabaikannya. Mungkin Arkana sedang lelah. Mungkin tugas akhirnya sedang menumpuk. Mungkin ada masalah di perusahaan keluarga.Anindya tidak i

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 109

    Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek."Kakek."Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?""Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai.""Bagus."Keduanya kemudian berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa, pelayan menghidangkan teh hangat dan beberapa kudapan sederhana sebelum meninggalkan mereka berdua.Tuan Adipati tidak langsung membuka tujuan kedatangannya. Beliau lebih dulu menanyakan perkembangan kuliah Arkana, tugas akhirnya, hingga rencana memasuki Grup Pratama setelah wisuda nanti.Arkana menjawab satu per satu dengan tenang. Semua berjalan sesuai rencana. Ia dan Anindya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah terakhir sebelum resmi

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 108

    Beberapa hari setelah reuni, Rafael menghadiri sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh salah satu mitra bisnis keluarga Mahendra.Acara itu dipenuhi para pengusaha, komisaris, dan keluarga-keluarga besar yang telah lama saling mengenal. Sebagai putra keluarga Mahendra, Rafael memang beberapa kali mulai diminta ayahnya menghadiri acara seperti ini."Belajar mengenal orang-orang penting," begitu kata ayahnya.Rafael tidak terlalu menikmati acara semacam itu. Baginya, percakapan mengenai bisnis jauh lebih membosankan dibanding menghadiri presentasi kuliah. Namun sebagai penerus keluarga, ia tidak memiliki banyak pilihan.Setelah menyapa beberapa tamu, pandangannya tiba-tiba berhenti pada seorang pria tua berambut putih yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Posturnya masih tegap. Tatapannya tajam. Meski usianya tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa begitu kuat.Rafael langsung mengenalinya. Tuan Adipati Pradikusuma. Kakek dari pihak ibu Arkana.Rafael menarik nap

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 40

    Hari-hari setelah itu bergerak cepat. Terlalu cepat bagi sebagian orang. Namun terlalu lambat bagi yang sedang gelisah.Di Nusantara Academy, banyak siswa mulai terbiasa melihat satu pemandangan baru: Anindya Wijaya di dekat Arkana Pratama. Kadang membawa buku. Kadang membawa camilan. Kadang hanya

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status