LOGINChapter 109 – Tanpa KehadirannyaHari pertama sejak Anindya meminta waktu. Arkana masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa Anindya hanya membutuhkan waktu. Bukankah Anindya sendiri yang mengatakan mereka tidak putus? Ia hanya meminta waktu untuk menenangkan diri. Kalimat itu terus diulang Arkana di dalam kepalanya. Namun, mengetahui alasannya dan benar-benar menjalaninya adalah dua hal yang berbeda.Pagi itu, seperti biasa mobil keluarga Pratama memasuki area Universitas Garuda Nasional. Sopir membuka pintu mobil dan membantu Arkana turun ke kursi rodanya."Terima kasih, Pak.""Sama-sama, Tuan Muda."Biasanya, setelah sampai di kampus, Arkana akan langsung menuju gedung Manajemen Strategis. Bukan karena kelasnya di sana. Melainkan karena ia tahu Anindya hampir selalu datang lebih awal. Mereka akan sarapan bersama sebelum masing-masing masuk ke kelas. Sudah hampir empat tahun rutinitas itu berjalan. Hari ini... Arkana hanya memandang ke arah gedung itu dari kejauhan. Lalu mengembuskan n
Sudah dua hari sejak pertengkaran mereka di taman kampus. Dua hari. Dan untuk pertama kalinya sejak mereka resmi berpacaran, Anindya benar-benar tidak menghubungi Arkana.Tidak ada pesan selamat pagi. Tidak ada foto makanan yang biasa ia kirim saat makan siang. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, 'Sudah makan?' atau 'Kuliahmu selesai jam berapa?'Semuanya menghilang. Arkana berkali-kali membuka layar ponselnya. Kotak percakapan mereka tetap menjadi yang paling atas. Namun tidak ada pesan baru. Ia beberapa kali ingin mengetik sesuatu.'Maaf.''Apa kita bisa bicara?''Aku jemput pulang?'Semua kalimat itu ditulis. Lalu dihapus kembali. Hingga akhirnya, pada malam kedua, Arkana menyadari satu hal. Jika ia terus diam, jurang di antara mereka hanya akan semakin lebar. Ia menarik napas panjang. Lalu menekan tombol panggil.Nada sambung terdengar.Sekali.Dua kali.Tiga kali."...Halo."Suara Anindya terdengar pelan. Tidak dingin. Namun juga tidak sehangat biasanya."Anin...""Ada apa?"
Sejak percakapan antara Arkana dengan Tuan Adipati beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang berubah pada diri Arkana.Perubahannya tidak besar. Bahkan mungkin tidak akan disadari oleh orang lain. Namun bagi Anindya... Perubahan sekecil apa pun pada Arkana hampir tidak pernah luput dari perhatiannya.Arkana masih menghubunginya setiap pagi. Masih menjemputnya ke kampus dengan sopir keluarga Pratama. Masih menemaninya makan siang ketika jadwal kuliah mereka bertemu. Masih mengantar pulang seperti biasa. Semuanya tetap sama. Setidaknya di permukaan. Namun, Arkana menjadi jauh lebih pendiam.Ketika Anindya bercerita tentang dosen yang tiba-tiba memberi revisi tambahan, Arkana tetap mendengarkan, tetapi jawabannya hanya singkat."Hm.""Iya.""Bagus."Sesekali ia tersenyum. Tetapi senyumnya tidak lagi benar-benar sampai ke matanya.Anindya mencoba mengabaikannya. Mungkin Arkana sedang lelah. Mungkin tugas akhirnya sedang menumpuk. Mungkin ada masalah di perusahaan keluarga.Anindya tidak i
Beberapa hari setelah menghadiri jamuan makan malam bersama para rekan bisnis dan bertemu dengan Rafael, Tuan Adipati Pradikusuma kembali mengunjungi kediaman keluarga Pratama.Kunjungannya kali ini bukan untuk urusan perusahaan. Ia hanya ingin bertemu dengan cucunya. Arkana yang sedang berada di ruang baca segera menghentikan pekerjaannya begitu mendengar kedatangan sang kakek."Kakek."Tuan Adipati mengangguk pelan. "Masih sibuk?""Sedikit. Tugas akhir sudah hampir selesai.""Bagus."Keduanya kemudian berpindah ke ruang keluarga. Seperti biasa, pelayan menghidangkan teh hangat dan beberapa kudapan sederhana sebelum meninggalkan mereka berdua.Tuan Adipati tidak langsung membuka tujuan kedatangannya. Beliau lebih dulu menanyakan perkembangan kuliah Arkana, tugas akhirnya, hingga rencana memasuki Grup Pratama setelah wisuda nanti.Arkana menjawab satu per satu dengan tenang. Semua berjalan sesuai rencana. Ia dan Anindya tinggal menyelesaikan beberapa mata kuliah terakhir sebelum resmi
Beberapa hari setelah reuni, Rafael menghadiri sebuah jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh salah satu mitra bisnis keluarga Mahendra.Acara itu dipenuhi para pengusaha, komisaris, dan keluarga-keluarga besar yang telah lama saling mengenal. Sebagai putra keluarga Mahendra, Rafael memang beberapa kali mulai diminta ayahnya menghadiri acara seperti ini."Belajar mengenal orang-orang penting," begitu kata ayahnya.Rafael tidak terlalu menikmati acara semacam itu. Baginya, percakapan mengenai bisnis jauh lebih membosankan dibanding menghadiri presentasi kuliah. Namun sebagai penerus keluarga, ia tidak memiliki banyak pilihan.Setelah menyapa beberapa tamu, pandangannya tiba-tiba berhenti pada seorang pria tua berambut putih yang sedang berbincang dengan beberapa pengusaha. Posturnya masih tegap. Tatapannya tajam. Meski usianya tidak lagi muda, wibawanya tetap terasa begitu kuat.Rafael langsung mengenalinya. Tuan Adipati Pradikusuma. Kakek dari pihak ibu Arkana.Rafael menarik nap
Malam telah larut ketika Rafael akhirnya tiba di apartemennya. Setelah kuliah, Rafael memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Ingin merasakan mandiri, alasannya dulu. Padahal, Rafael hanya tidak ingin merasa diawasi oleh orang tuanya. Terlebih karena hubungannya dengan Citra yang masih ditentang oleh orang tuanya. Rafael melepaskan jas tipis yang dikenakannya, lalu menjatuhkannya begitu saja ke atas sofa. Ruangan itu sunyi. Biasanya, setelah mengantar Citra pulang, ia akan langsung mandi lalu tidur. Namun malam ini berbeda.Entah mengapa, pikirannya justru kembali ke acara reuni yang baru saja selesai beberapa jam lalu. Rafael mengembuskan napas panjang. Bayangan teman-teman sekelas mereka satu per satu bermunculan di kepalanya.Lina yang tetap cerewet. Teman-teman yang masih tetap berisik dan bersemangat dengan gosip. Dan... Anindya.Rafael memejamkan mata. Ia masih ingat jelas saat melihat Anindya di restoran bersama Arkana. Selama bertahun-tahun mereka tidak benar-benar bertemu.
Setelah Rafael pergi, Anindya mengambil ponsel lalu mengirim pesan singkat pada satu orang.'Hari ini Rafael datang bikin kesal.'Balasan datang beberapa menit kemudian. 'Mau aku tabrak?'Anindya tertawa keras sendirian. 'Kamu kan di kursi roda.'Balasan kedua masuk. 'Tetap bisa. Strategis.'Anindy
Perayaan lima puluh tahun perusahaan Mahendra berjalan semakin ramai. Musik berganti lebih hangat. Para tamu mulai berpindah dari meja formal ke kelompok-kelompok kecil. Bisnis dibicarakan sambil tersenyum. Aliansi lama diperkuat dengan gelas anggur. Dan gosip sosial mulai bergerak sama cepatnya de
Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe
Sorot lampu memenuhi ballroom Grand Meridia Hotel, memantul dari kristal di langit-langit dan meja-meja kaca yang tersusun mewah. Tepuk tangan bergema ketika pembawa acara mengangkat kartu pemenang dan tersenyum lebar ke arah kamera. “Pemenang Aktris Terbaik tahun ini adalah... Anindya Wijaya!” R







