Share

Chapter 77

Penulis: Nyctus
last update Tanggal publikasi: 2026-06-13 21:26:41

Ujian masuk universitas selesai. Tapi justru setelah itu, masa paling menyiksa dimulai. Menunggu hasil selama satu bulan penuh. Tiga puluh hari yang terasa jauh lebih panjang daripada seluruh masa persiapan ujian. Karena saat belajar, orang masih bisa berusaha. Saat menunggu, yang bisa dilakukan hanya berpikir terlalu banyak.

Banyak siswa kelas XII mendadak kehilangan arah. Ada yang liburan. Ada yang tidur tiga hari berturut-turut. Ada yang mulai ikut kursus cadangan. Ada yang setiap pagi meng
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 127

    Ruang makan telah disiapkan dengan rapi ketika mereka memasuki ruangan. Meja panjang itu telah tertata dengan berbagai hidangan. Beberapa pelayan berdiri di sisi ruangan, menunggu hingga semua orang mengambil tempat masing-masing.Anindya berjalan di samping Arkana hingga mereka tiba di tempat yang telah disiapkan untuk mereka. Ia kemudian duduk di sisi Arkana. Di seberang meja, Tuan Adipati telah mengambil tempat duduknya. Istri beliau duduk di sampingnya, sementara Ranaditya berada di sisi lain meja.Anindya kembali merasakan sedikit ketegangan. Di ruang keluarga, ia masih memiliki jarak yang cukup dengan Ranaditya. Sekarang mereka duduk dalam satu meja. Tidak ada lagi jarak yang bisa membuatnya merasa aman untuk sekadar mengalihkan pandangan."Silakan makan, Anindya." Istri Tuan Adipati tersenyum kepadanya. "Jangan terlalu sungkan."Anindya membalas senyum itu. "Baik, Nyonya."Tuan Adipati kemudian memastikan posisi Arkana telah nyaman sebelum mengambil tempat duduknya sendiri. Tid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 126

    Setelah semua duduk, pelayan datang membawa teh dan kopi. Anindya duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua lelaki tua itu, sementara Arkana berada di sampingnya dengan kursi roda yang sedikit dimiringkan agar lebih mudah ikut berbincang."Perjalanan ke sini lancar?" tanya Tuan Adipati membuka percakapan."Syukurlah lancar, Tuan," jawab Anindya sopan."Akhir-akhir ini, jalanan mulai padat kalau akhir pekan begini.""Betul, Tuan. Tapi untungnya tidak terlalu lama."Tuan Adipati mengangguk sambil tersenyum. "Baguslah. Saya sempat khawatir kalian terlambat karena hujan."Percakapan kemudian beralih pada tugas yang sedang dikerjakan oleh Anindya. Beliau menanyakan perkembangan jurnal ilmiah yang sedang dikelolanya. Anindya menjawab dengan tenang, sesekali Arkana menambahkan satu atau dua kalimat ketika pembicaraan menyentuh proyek yang pernah mereka diskusikan bersama. Ranaditya tetap diam. Beliau hanya mendengarkan sambil sesekali menyesap teh di hadapannya. Tidak ada yang merasa aneh.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 125

    Pintu utama terbuka perlahan."Selamat malam, Tuan Arkana. Nona Anindya." Pelayan yang membuka pintu membungkukkan badan dengan hormat sebelum mempersilakan keduanya masuk.Arkana menggerakkan kursi rodanya lebih dahulu. Anindya berjalan di sampingnya, berusaha menjaga langkahnya tetap tenang meski jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya. Begitu memasuki ruang keluarga, Tuan Adipati telah lebih dulu berdiri dari sofa.Senyum hangat langsung menghiasi wajah lelaki tua itu. "Arkana." Beliau menepuk pelan bahu cucunya. "Akhirnya sampai juga.""Maaf membuat Tuan Adipati menunggu," kata Anindya."Kalau untuk cucu sendiri, tidak ada istilah menunggu."Ucapan itu disusul tawa kecil dari istri Tuan Adipati. Perempuan tua itu kemudian menoleh kepada Anindya."Selamat malam, Anindya.""Selamat malam, Nyonya."Anindya membungkukkan badan dengan sopan."Saya senang bisa bertemu lagi.""Aku juga." Perempuan tua itu tersenyum lembut. "Kamu tidak usah terlalu tegang. Anggap saja sedan

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 124

    Mobil yang membawa Arkana dan Anindya melaju tenang membelah jalanan malam. Di balik kemudi duduk sopir pribadi keluarga Pratama. Sementara itu, Arkana dan Anindya duduk berdampingan di kursi belakang. Biasanya, Anindya akan mengisi perjalanan dengan berbagai cerita, mulai dari pekerjaan hingga hal-hal kecil yang ditemuinya sepanjang hari.Namun malam itu berbeda. Sejak meninggalkan rumah, Anindya hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya sesekali mengarah ke luar jendela, tetapi pikirannya jelas sedang berada di tempat lain. Arkana memperhatikannya beberapa saat."Kamu diam sekali malam ini." Suara Arkana yang tenang membuat Anindya sedikit tersentak.Anindya menoleh dan tersenyum tipis. "Maaf.""Lagi banyak pikiran?"Anindya mengangguk pelan. "Mungkin... sedikit."Arkana mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Anindya. "Karena makan malam?"Anindya menatap tangan mereka yang saling bertaut. "Iya."Arkana tersenyum kecil. "Kakek cuma ingin makan malam bersama."Kalim

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 123

    Sore itu, kediaman Tuan Adipati tampak sedikit lebih ramai dari biasanya. Para pelayan hilir mudik mempersiapkan ruang makan. Aroma masakan yang baru selesai dimasak memenuhi setiap sudut rumah, sementara meja makan panjang telah ditata rapi dengan peralatan makan terbaik.Di halaman depan, sebuah sedan hitam perlahan memasuki pelataran. Seorang pelayan segera membukakan pintu.Ranaditya Pratama turun dari mobil dengan langkah tenang. Jas berwarna abu-abu gelap yang dikenakannya terlihat sederhana, tetapi tetap memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan."Selamat sore, Pak Ranaditya."Ranaditya menganggukkan kepala. "Sore."Belum sempat pelayan mempersilahkannya masuk, pintu utama telah terbuka lebih dahulu. Tuan Adipati berjalan keluar bersama istrinya, menyambut tamu yang telah mereka kenal selama puluhan tahun itu."Selamat datang, Ditya."Sudut bibir Ranaditya terangkat tipis. "Sudah lama kau tidak menyambutku sampai ke depan pintu."Tuan Adipati terkekeh pelan. "Kalau bukan hari in

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 122

    Selain Tuan Adipati, masih ada satu sosok yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Arkana. Ranaditya Pratama, kakek dari pihak ayah, adalah seorang purnawirawan jenderal yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya kepada negara. Setelah kedua orang tua Arkana meninggal dunia, ia bersama Tuan Adipati membesarkan Arkana hingga tumbuh menjadi laki-laki seperti sekarang. Hubungan keduanya bukan hanya sebagai sesama kakek yang menyayangi cucu mereka, tetapi juga sebagai dua orang tua yang sama-sama kehilangan anak, lalu memilih berjalan berdampingan demi memastikan Arkana tidak pernah kehilangan arah dalam hidupnya.***Pukul lima pagi. Langit masih diselimuti semburat biru gelap ketika Ranaditya Pratama telah menyelesaikan putaran terakhir jalan kakinya di halaman rumah. Usianya telah melewati tujuh puluh lima tahun. Rambutnya memutih hampir seluruhnya. Garis-garis usia terpahat jelas di wajahnya. Namun tubuhnya masih tegap. Langkahnya mantap. Punggungnya nyaris tak pernah membung

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 40

    Hari-hari setelah itu bergerak cepat. Terlalu cepat bagi sebagian orang. Namun terlalu lambat bagi yang sedang gelisah.Di Nusantara Academy, banyak siswa mulai terbiasa melihat satu pemandangan baru: Anindya Wijaya di dekat Arkana Pratama. Kadang membawa buku. Kadang membawa camilan. Kadang hanya

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 7

    Perubahan sikap Anindya Wijaya menjadi bahan pembicaraan paling panas di Nusantara Academy selama seminggu terakhir. Dulu, semua orang tahu siapa yang selalu mengelilingi Rafael Mahendra.Anindya, wanita kaya yang keras kepala itu akan datang membawa kopi saat Rafael begadang mengerjakan tugas, men

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status