LOGINKeesokan paginya, Anindya berjalan di koridor sambil membaca flashcard. Saat berbelok, ia hampir menabrak kursi roda Arkana. Keduanya berhenti sangat dekat. Anindya menutup kartu. “Permisi.”Anindya hendak lewat. Namun, Arkana bicara lebih dulu. “Kamu tidak ke perpustakaan kemarin.”“Ya.”“Kamu bilang belajar sendiri.”“Dan aku belajar.”Sunyi sesaat. “Aku menunggumu kemarin.”Kalimat itu keluar pelan. Nyaris seperti pengakuan. Anindya menatapnya. Untuk pertama kali sejak pertengkaran itu, mata Arkana tampak goyah. Anindya menahan senyum.“Bagus," kata Anindya ringan. Lalu ia melangkah pergi. Meninggalkan Arkana membeku di tempat.Dari ujung koridor, teman-temannya menyaksikan sambil heboh.“Ya Tuhan, dia ngebalikin!”“Anindya ganas sekali.”“Cowok dingin kena karma.”Sementara Anindya berjalan tenang ke kelas, jantungnya berdebar kencang. Ternyata benar. Mendorongnya pergi... tidak akan semudah itu.***Pagi itu, langit cerah di atas Nusantara Academy. Koridor ramai oleh siswa yang
Sejak pagi, suasana di Nusantara Academy terasa biasa bagi semua orang. Kecuali bagi tiga orang: Anindya yang memutuskan tidak akan kalah. Arkana yang menyesali segalanya namun tak tahu cara memperbaiki. Dan Rafael yang mulai terlalu sering memperhatikan dua orang itu.Anindya menjalani harinya dengan disiplin yang nyaris menakutkan. Masuk kelas tepat waktu. Mengerjakan tugas tanpa mengeluh. Menjawab pertanyaan guru. Bahkan ikut diskusi kelompok tanpa drama. Teman-temannya sampai curiga.“Kamu habis kesurupan siswa teladan?”“Aku sedang produktif.”“Karena patah hati?”“Aku sedang bertransformasi.”Temannya berbisik pada yang lain. “Bahaya. Kalau orang cantik patah hati terus rajin, dunia tidak adil.”Anindya tetap menulis catatan. Namun kali ini ia benar-benar fokus. Kalau Arkana ingin menjauh dengan alasan masa depan... maka ia akan membuat masa depan itu semakin nyata.Di sisi lain, Arkana menjalani hari dengan ekspresi biasa. Terlalu biasa. Ia membaca buku. Menjawab guru. Membuka
Setelah Arkana di perpustakaan sendiri, pandangannya kosong. Kepalanya penuh dengan kilas balik kejadian barusan. Arkana tahu, ia bisa mengejar. Ia bisa memanggil. Ia bisa menjelaskan. Namun tubuhnya justru kaku. Bukan karena kakinya. Tapi karena ketakutan.Bagaimana jika Anindya memang hanya keras kepala sesaat? Bagaimana jika suatu hari ia menyesal? Bagaimana jika perasaannya sekarang tulus... tapi tidak cukup kuat untuk masa depan?Arkana menutup mata. Ia tidak takut ditolak. Ia takut dipercaya lalu mengecewakan. Ia takut, ternyata dirinya tidak bisa menjadi yang diharapkan oleh Anindya. Dan kesadaran ini, membuat Arkana terkejut lebih dari yang seharusnya.Arkana menggeleng. Tidak, seharusnya bukan ini yang ia rasakan. Arkana sadar, perasaan yang mulai muncul ini harus dibunuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Malam itu, rumah keluarga Wijaya terasa lebih sunyi. Anindya pulang lebih cepat dan langsung masuk kamar. Neneknya yang sedang membaca koran menatap pintu tertutup. La
Sore di perpustakaan, Anindya datang tetap sesuai jadwal. Ia meletakkan buku dengan agak keras.“Kita belajar atau kamu mau kabur lagi?”Arkana membuka catatan. “Kita belajar.”“Bagus.”Dua puluh menit pertama berjalan dalam diam. Akhirnya Anindya melempar pensil ke meja.“Aku nggak tahan," kata Anindya kesal. “Ambil pensilmu.”“Jawab aku dulu.”“Tidak.”“Kenapa kamu berubah?”Arkana menatapnya. “Aku tidak berubah.”“Kamu menjauh.”“Itu perasaanmu.”“Kamu dingin.”“Aku memang dingin.”“Kamu kejam.”“Itu baru mungkin.”Anindya menggigit bibir. Matanya mulai memanas. Namun ia menolak menangis. “Kalau kamu mau aku pergi, bilang.”Arkana menahan napas. Ia hampir menjawab tidak. Namun kata yang keluar justru lain. “Kalau kamu lelah, kamu boleh berhenti.”Sunyi. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Anindya...itu seperti pintu yang dibuka keluar.“Berhenti?” ulang Anindya pelan.Arkana menatap buku lagi. “Kamu sibuk kelas XII. Fokus saja.”“Dan kampusmu?”“Itu urusanmu.”“Dan syarat
Sikap Arkana cukup memberi kejutan bagi Anindya dan bukannya Arkana tidak tahu tentang hal itu. Di sisi lain ruangan, Arkana menggenggam pena terlalu erat. Ia mendengar napas Anindya berubah. Mendengar semangat gadis itu turun. Dan bagian dirinya ingin langsung menarik kata-kata tadi. Namun bagian lain menahan. Karena justru itulah masalahnya. Ia mulai terlalu lembut padanya. Terlalu nyaman. Terlalu ingin dekat.Jika nanti Anindya sadar hidup nyata tak seindah bayangannya... maka semakin dekat mereka sekarang, semakin sakit saat hancur. Lebih baik ia menarik jarak lebih dulu. Lebih aman begitu. Setidaknya begitu yang ia paksa percaya.Sore hari, Anindya pulang lebih diam dari biasanya. Neneknya langsung menyadari.“Kamu berantem?” tanya Neneknya.“Tidak.”“Nilai jelek?”“Tidak.”“Laki-laki?”Anindya menatap neneknya. “Kok tahu?”“Karena wajahmu terlalu mahal untuk rusak gara-gara matematika.”Ia menghela napas dan menjatuhkan diri ke sofa. “Dia dingin.”“Bukannya memang dingin?”“Ini
Arkana menghentikan kursi rodanya di sisi Anindya sambil menatap Rafael. Pandangannya sulit dijelaskan maknanya.“Sudah selesai?” tanya Arkana pada Anindya.Rafael menegakkan tubuh. “Ini urusan kami.”“Sekarang urusanku juga.” Nada Arkana tenang.Dan justru itu lebih menekan. Anindya menoleh cepat. “Kamu dengar?”“Cukup.”Arkana tak melihat Anindya. Matanya tetap pada Rafael.“Kamu banyak bicara soal hidup orang lain," kata Arkana.Rafael membalas tajam. “Aku bicara fakta.”Arkana memiringkan kepala sedikit. “Fakta atau ketakutanmu sendiri?”Rafael mengepal tangan. Arkana melanjutkan, “Kalau kau meragukan dia, itu urusanmu. Kalau kau meragukan aku, itu lucu. Dan kalau kau datang untuk merendahkan kondisiku di depan dia...”Arkana berhenti sejenak. Tatapannya menusuk lurus. “Maka kau jauh lebih kecil dari yang kupikir.”Sunyi. Berat. Rafael belum pernah merasa dipandang serendah itu tanpa suara tinggi. Anindya berdiri di samping Arkana dengan dada berdebar. Ia menatap profil wajah pria







