Beberapa menit kemudian, Revan kembali. Ekspresinya kusut, alisnya berkerut, seolah menahan rasa bersalah.“Maaf banget, Sen,” ucapnya pelan. “Kayaknya gue nggak bisa anterin lo pulang. Mama tiba-tiba minta dijemput di rumah temennya. Tadi dia arisan, pulangnya malah maksa gue yang jemput.”Aku menarik napas lega, tapi buru-buru menutupinya dengan senyum yang lebih tulus kali ini.“Yaelah, santai aja, Van. Aman kok. Sana jemput Mama lo, jangan khawatirin gue. Gue bisa pulang sendiri, tinggal order ojol juga gampang.”Revan menatapku lama, seakan mencari celah apakah aku benar-benar jujur. “Lo yakin nggak apa-apa? Gue sumpah nggak tenang kalo lo sendirian. Minimal biar gue mesenin ojol, ya?”Aku tertawa kecil, berusaha menenangkan hatinya. “Nggak usah, Van. Gue bisa kok. Gue udah biasa kayak gini. Lo fokus jemput Mama lo aja.”Ia menghela napas panjang, lalu menyerahkan paperbag milikku. Tangannya sedikit menahan, seakan berat melepas.“Nih… jangan lupa dibawa. Kalau ada apa-apa, langs
Read more