Mata kuliah Althaf akhirnya usai. Mahasiswa mulai merapikan barang-barang mereka, begitu juga aku yang buru-buru memasukkan laptop dan alat tulis ke dalam tas, berharap bisa segera keluar dari kelas tanpa menarik perhatian.Namun sebelum sempat berdiri, suara berat itu terdengar, memecah riuh rendah kelas.“Senjani, saya tunggu di kantor.”Nada suaranya datar, dingin, tanpa memberi ruang untuk menolak. Ucapannya singkat, tapi cukup membuatku membeku di tempat.Ia langsung melangkah keluar, meninggalkan kelas dengan langkah mantap. Dari pintu, samar-samar kulihat Reihan sudah menunggunya—pria yang kukenal sebagai tangan kanannya di Dirgantara Textile, sekaligus asisten pribadinya.“Ada urusan apa lagi lo sama Pak Althaf, Sen?” suara Layla menyusul, penuh rasa penasaran. Tatapannya menyipit, seolah berusaha membaca rahasiaku. “Perasaan belakangan ini dia sering banget manggil lo.”Aku tersenyum kaku, mencoba menutupi gejolak yang tiba-tiba memenuhi dadaku. “Kayaknya… ngebahas tugas gue
最後更新 : 2026-05-08 閱讀更多