Matanya menatapku lurus, tajam, menusuk—hanya sebentar, tapi cukup untuk membuatku terdiam. Detik berikutnya, ia cepat-cepat memalingkan wajah, pura-pura sibuk menyalakan musik di ponselnya. Namun aku tahu, ada sesuatu di balik tatapan itu.Rama menoleh padaku, seolah menyadari aku agak gelisah.“Kalau kamu butuh sesuatu selama perjalanan, bilang aja ya. Kita kan satu kursi, jadi biar lebih enak kalau bisa saling bantu,” ucapnya ramah.Aku tersenyum tipis, meski hatiku tidak sepenuhnya tenang. “Iya, makasih, Rama.”Aku menaruh tasku di pangkuan, mencoba duduk tegak di kursi sempit ini. Rama di sampingku tampak terlalu… akrab. Senyumnya ramah, tapi entah kenapa terasa berlebihan. Sesekali ia melirik ke arahku, lalu menghela napas panjang seolah ingin membuka percakapan.“Akhirnya dapat teman duduk yang enak,” katanya sambil tersenyum lebar. “Soalnya kalau duduk sama cowok lain, biasanya rebutan space. Kalau sama kamu kan, lebih nyaman.”Aku hanya membalas dengan anggukan kecil. Senyumk
Read more