Althaf maju selangkah, map di tangannya terbuka. Suaranya tenang, datar, dan berwibawa."Kamar satu, untuk Rama, Fajar, dan Danu."Tiga mahasiswa cowok bersorak kecil dan maju mengambil kunci.Satu per satu nama dipanggil, suara Althaf teratur, tanpa ekspresi berlebihan. Tapi saat huruf S mulai terdengar, aku menahan napas tanpa sadar."Kamar tujuh... Senjani, Layla, dan Citra."Aku refleks menoleh ke arah Layla yang langsung bersorak kecil, menepuk tanganku."Yesss, sekamar sama lo, Senja! Wah, fix seru ini. Ada Citra juga, makin rame!" katanya heboh.Citra, yang duduk tak jauh, hanya tersenyum malu-malu.Kakiku terasa berat saat melangkah maju mengambil kunci. Dan benar saja, tanganku bersentuhan dengan jari Althaf saat ia menyerahkan kunci kamar. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat dadaku seakan dicekik.Aku buru-buru menarik tangan, menunduk. "Terima kasih, Pak..." suaraku lirih, hampir tak terdengar.Tak ada balasan kata darinya. Hanya sebuah anggukan singkat, denga
Read more