Aku masih bisa merasakan gemetar di kakiku ketika duduk di sofa ruang Althaf. Nafasku terengah, wajahku pucat, sementara bayangan pria-pria tadi masih menari di kepalaku. Jaketku basah, kemejaku kusut, tapi lebih dari itu... hatiku terasa campur aduk-antara takut, marah, dan malu.Althaf menutup pintu ruangannya perlahan, lalu berbalik menghadapku. Sorot matanya tajam, namun suaranya datar."Kalau saya tidak muncul tepat waktu, kamu tahu apa yang akan terjadi, Senjani?"Aku menunduk, menggenggam erat ujung rokku. "Saya... saya bisa urus sendiri, Pak." Suaraku bergetar, berusaha terdengar tegar padahal tubuhku nyaris runtuh.Ia mendekat, mencondongkan tubuh, membuatku harus menengadah menatapnya."Urus sendiri? Kamu bahkan hampir disakiti oleh mereka." Tatapannya menusuk, dingin, seakan menelanjangiku tanpa ampun. "Itu bukan masalah kecil, Senjani. Dan ayahmu..." Ia berhenti sejenak, menarik napas berat. "...meninggalkan bom waktu yang kamu sendiri tidak bisa padamkan."Aku menggigit b
آخر تحديث : 2026-04-28 اقرأ المزيد